Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 23 Oktober 2017 | 15:06 WIB

Adhyaksa Sudah Klarifikasi Soal HTI ke Jokowi

Oleh : Ray Muhammad | Kamis, 10 Agustus 2017 | 14:00 WIB
Adhyaksa Sudah Klarifikasi Soal HTI ke Jokowi
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault mengaku telah mengklarifikasi soal tudingan dirinya yang disebut mendukung ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Klarifikasi ini disampaikan Adhyaksa saat menemui Jokowi ke Istana hari ini, Kamis (10/8/2017). Ia menegaskan, persoalan tersebut telah selesai.

"Saya menyampaikan sudah clear ya soal kedatangan saya di HTI. Saya datang kesitu tahun 2013. Saya kira sudah clear," ujar Adhayksa di area Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (10/8/2017).

Adhyaksa mengaku dirinya menyikapi santai soal kedatangannya dalam acara HTI yang menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Hal yang ditegaskannya, selama memimpin Pramuka dirinya tidak pernah berniat mengganti Pancasila sebagai ideologi bangsa.

"Itu (Pancasila) sudah final dan justru Pramuka garda terdepan. Karena nikmat terbesar yang tuhan berikan setelah keimanan adalah tanah air Indonesia. Artinya apa? Saya bilang pada adik-adik nasionalis religius harus dibaca," jelasnya.

Soal pernyataannya yang berbicara soal khilafah dalam acara HTI, ia mengaku hanya mengutarakan sebatas pemahamannya dalam ajaran agamanya.

"Kalau saya datang tahun 2013 di HTI bicara soal khalifah, kalau menurut ajaran agama saya di akhir zaman akan lahir imam mahdi dan berperang melawan orang yang jahat bermata satu, itu namanya dajjal. Itu diakhir zaman. Itu pikiran saya waktu dan yang saya sampaikan. Saya sampaikan kepada Bapak Presiden, bukan dalam artian kemudian mengganti Pancasila," paparnya.

Mantan Menpora era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini menegaskan, dirinya penganut paham nasionalis dan religius. Sehingga tidak pernah terbersit dalam benaknya untuk mengganti ideologi bangsa.

"Saya dari dulu nasionalis religius dari dulu. Kakek saya dibunuh karena tahan Pancasila, gimana? Paman saya mantan Kepala Staf Angkatan Darat, gimana mungkin? Ini saya dapat Bintang Mahaputra Adipradana. Kalau saya mati, dimakamkan dapat jatah di Taman Makam Kalibata. Masa saya mau mengkhianati ini. Sudah clear kakak-kakak sekalian ya, enggak ada. Bapak Presiden mengerti," ungkapnya.

Di tengah diskusinya bersama Jokowi, ia mengatakan Kepala Negara menitipkan kepadanya agar Pramuka senantiasa menjadi garda terdepan menjaga ideologi bangsa.

"Pramuka diminta menjadi candakawah dimuka, garda terdepan untuk mengamankan bangsa ini ke depan, terutama menghadapi era milenia," tandasnya. [rym]

Komentar

 
x