Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 20 Oktober 2017 | 14:10 WIB

Bocah Kelas 2 SD Tewas, Sekolah Tak Lagi Aman?

Oleh : Ivan Setyadi | Kamis, 10 Agustus 2017 | 07:58 WIB
Bocah Kelas 2 SD Tewas, Sekolah Tak Lagi Aman?
Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti (Kanan) - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan duka mendalam atas tewasnya SR, Seorang siswa kelas II SDN Longkewang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

SR meregang nyawa setelah dipukul teman sekelasnya, Selasa (8/8/2017) di lingkungan sekolahnya setelah berkelahi dengan teman sekelasnya.

"Kematian SR menunjukan bahwa sekolah aman dan nyaman bagi anak didik ternyata masih jauh dari harapan," Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti, Kamis (10/8/2017).

Pembelaan sekolah dengan menyatakaan bahwa peristiwa kekerasan yang menimpa SR terjadi di belakang kantor, sementara pendidik fokus mengawasi pelajar di depan kantor, tetap tidak bisa di tolerir. Lingkungan sekolah aman meliputi seluruh luas sekolah tanpa kecuali, bahkan juga radius bebarapa ratur meter dari sekolah masih menjadi tanggungjawab pihak sekolah.

"Ada dugaan, SR tidak hanya di pukul tapi juga telinganya diisi dengan keripik dan disiram minuman ringan," ungkapnya.

Berkaca dari peristiwa ini dan banyaknya kasus-kasus kekerasan di sekolah yang diterima di pengaduan KPAI, menjadi suatu kesempatan Kemdikbud RI untuk meninjau kembali Kebijakan menambah lamanya berada di sekolah, karena ternyata sistem pengawasan yang lemah di banyak sekolah telah membuat sekolah tak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak.

"Kedua, KPAI menyayangkan kesimpulan dini yang dinyatakan pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, yang seolah menolak telah terjadi dugaan kekerasan di sekolah sehingga menimbulkan kematian SR," bebernya.

Pernyataan yang menyebut bahwa tidak ditemukan bekas pukulan, hanya baju dan celana SR yang kotor, menunjukkan kesimpulan yang mendahului penyelidikan hasil otopsi yang sedang dilakukan aparat penegak hukum.

Harusnya, Dinas Pendidikan Sukabumi mendukung penyelidikan dan menolak berkomentar hingga ada hasil dari penyelidikan. Pemerintah daerah juga harus segera menurunkan tim inspektorat untuk melakukan pemeriksaan terkait pembinaan, pengawasan dan evaluasi terhadap jajaran birokrasi pendidikan hingga pihak satuan pendidikan.

Kelima, KPAI mendukung penyelidikan pihak aparat penegak hukum, namun KPAI akan memastikan bahwa anak sebagai pelaku atau istilah perudangan adalah anak berhadapan dengan hukum (ABH) harus sesuai dengan UU No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

"Apalagi para pelaku masih dibawa usia 12 tahun, penanganannya harus memperhatikan hak-hak anak dan kondisi psikologinya sebagai anak sebagaimana diatur dalam UU SPPA tersebut," tandasnya.

Komentar

 
x