Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 24 Agustus 2017 | 13:55 WIB

Bantah Terima Uang E-KTP

Marzuki Alie: Masa Mau Ngaku?

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 9 Agustus 2017 | 13:18 WIB
Marzuki Alie: Masa Mau Ngaku?
Mantan Ketua DPR Marzuki Ali - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Ketua DPR Marzuki Ali kembali membantah dirinya ikut menikmati uang dari hasil korupsi proyek e-KTP yang menyebabkan kerugian negara mencapai Rp2,3 triliun.

"Kalau enggak ada (terima uang e-KTP) masa mau kita akui ya kan?," kata Marzuki usai diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Setya Novanto di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Untuk itu, politikus asal Partai Demokrat ini memastikan akan melaporkan orang yang menyebut dirinya menerima uang korupsi e-KTP ke Bareskrim.

Sebab, ia mengklaim tidak pernah menerima uang korupsi seperti yang dipaparkan Jaksa KPK di persidangan Irman dan Sugiharto.

"Makanya saya sampaikan (lapor) ke Bareskrim. Jadi, kalau memang ada enggak berani saya lapor ke Bareskrim saya merasa tidak pas lah," ujarnya.

Terlebih, Marzuki mengklaim disebutnya namanya hanya bersumber pada keterangan pihak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu, tidak pas bila dirinya diseret-seret dalam kasus ini.

"Apalagi katanya katanya yang memberikan (uang) ke saya itu pak Mulyadi katanya Nulyadi Komisi V. Apa urusannya Mulyadi Komisi V memberikan uangnya ke saya bukannya Andi Narogong," katanya.

Marzuki Alie disebut menerima uang e-KTP dari Andi Narogong, uang itu diberikan dengan kode 'MA' sejumlah Rp 20 miliar. Bahkan Marzuki disebut marah karena jatahnya tidak sesuai alias kurang.

Dalam perkara ini, dua mantan pejabat Ditjen Dukcapil Kemendagri Irman dan Sugiharto sudah divonis masing-masing tujuh dan lima tahun penjara. Keduanya terbukti bersalah melakukan korupsi e-KTP secara bersama-sama.

Tersangka ketiga, yakni Andi Narogong yang diduga sebagai salah satu pemeran utama bancakan proyek senilai Rp5,9 triliun. Berkas penyidikan Andi sudah lengkap dan akan segera disidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta.

Ketua DPR Setya Novanto juga ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Nama Novanto disebut melakukan korupsi e-KTP secara bersama-sama dalam dakwaan dan tuntutan.

Politikus Partai Golkar Markus Nari pun ditetapkan sebagai tersangka kelima. Selain tersangka korupsi e-KTP, Markus juga menjadi tersangka penghalang proses penyidikan dan persidangan.

Markus diduga menyuruh Miryam S Haryani untuk mencabut berita acara pemeriksaan (BAP) dalam sidang. Alhasil, politikus Hanura tersebut ditetapkan sebagai tersangka pemberi keterangan palsu. [rym]

 
x