Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 11 Desember 2017 | 14:49 WIB

Bawa Titipan Megawati, Hasto temui Hamzah Haz

Oleh : Ivan Setyadi | Sabtu, 5 Agustus 2017 | 15:13 WIB
Bawa Titipan Megawati, Hasto temui Hamzah Haz
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Jalinan persaudaraan antara kaum nasionalis dan Islam harus diperkokoh dan dijaga sebagai pondasi kekuatan dalam membangun negara.

Hal ini menjadi sebuah kesimpulan dalam diskusi dan silaturrahmi yang dilakukan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dengan Wakil Presiden ke-9 RI Hamzah Haz di kediaman tokoh partai PPP tersebut di Patra Kuningan, Jakarta, Sabtu (5/8/2017).

Hasto datang bersama Sekjen Bamusi Falah Amru serta sejumlah pengurus DPP PDIP. Rombongan disambut langsung oleh Hamzah Haz bersama politikus senior PPP Habil Marati.

Hasto membawa oleh-oleh titipan dari Megawati berupa ayam goreng dan gudeg. Tak hanya itu, Mega juga menitipkan bukunya yang berjudul 'Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat' serta 'Megawati dalam Catatan Wartawan Bukan Media Darling Biasa' kepada Hamzah Haz.

Hasto mengatakan, kedatangannya ke kediaman Hamzah Haz dalam rangka silaturrahmi dan menyampaikan salam dari Ketua Umum PDIP dan Presiden ke-5 RI Ibu Megawati mengingat kepemimpinan yang dibangun Megawati-Hamzah Haz merupakan representasi kondisi nasional kita yang sebenarnya.

"Jadi meski saat itu katakanlah pasangan Megawati-Hamzah dikawain paksakan MPR tapi tali silaturrahim itu dibangun sangat baik sampai sekarang. Bahkan Pak Hamzah bilang ketika mau ambil keputusan dalam rapat kabinet Pak Hamzah pegang tangan Ibu Megawati. Menunjukkan betapa kompaknya kepemimpinan itu. Lalu rapat bisa mengambil keputusan yang baik dan kompak," ujar Hasto.

Hasto menjelaskan, kekompakan Megawati dan Hamzah ketika menjadi pemimpin bangsa Indonesia juga menjadi kekuatan bagi negara. Sebab ketika salah satu mengangkat alis saja dan ketika salah satu batuk saja, maka rakyat ikut batuk."Sangat disadari betapa pentingnya membangun soliditas dan persaudaraan di antara pemimpin nasional," jelas Hasto.

Hasto juga menyampaikan bahwa Ibu Mega sering bercerita dan menyampaikan bahwa Hamzah Haz adalah pakar politik anggaran. Dan dalam pertemuan ini Hamzah menyampaikan keprihatinan karena tax ratio kita masih rendah. Hamzah juga menuturkan nostalgia dengan Bung Karno dan ingat terinspirasi pidato Bung Karno yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang khas dan dibangun atas dasar Pancasila.

Pancasila juga dijalankan sangat baik. Misalnya prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dijalankan dengan adanya kementerian agama di mana seluruh perwakilana agama ada dalam satu naungan Kemenag.

"Dalam pertemuan ini kami juga berbicara persahabatan dan silaturrahmi antar pemimpin sangat penting. Dan itu dibangun untuk bangsa dan negara ditambah hubungan persaudaraan pribadi antarpemimpin yang sangat dekat sehingga menyatukan bangsa," imbuh Hasto.

Hasto mengatakan, dalam kepemimpinan harus ada suasana kebatinan yang sama dalam membangun negara atau sebuah persaudaraan sejati untuk membangun bangsa.

"Jangan sampai nahkoda dan wakilnya punya agenda berbeda-beda sehingga negara bisa kehilangan arah. Kekompakan harus dijaga meskipun partainya berbeda," jelas Hasto.

Hasto menuturkan bahwa Hamzah juga bercerita bahwa Megawati adalah sosok yang kokoh dalam memegang prinsip. Contohnya ketika mendukung Palestina untuk menjadi bangsa yang merdeka seluas luasnya dan ini disampaikan dalam pidato PBB. Kemudian saat Abu Bakar Baasyir mau diekstradisi, jelas bahwa Megawati menolak dilakukan ekstradisi tersebut. Bahkan dalam soal Irak, Megawati adalah tokoh negara yang mendukung kebebasan Irak sebagai negara Islam untuk lepas dari cengkraman negara asing.

"Ini semua menjadi contoh hubungan sangat kuat dan persaudaraan yang erat. Antara Ibu Mega dan Pak Hamzah dan antara Islam dan Nasionalis. Teladan seperti ini harus dirawat dan dijaga dalam situasi kepemimpinan saat ini dan seterusnya," jelasnya.

Dalam benak Ibu Megawati, jelas Hasto, sosok Hamzah Haz adalah wapres dan tokoh negara yang sangat penting dalam masa reformasi. Karena itu Megawati memerintahkan semua kader PDIP untuk memberikan perhatian kepada pejabat negaranya seperti Hamzah Haz terutama ketika sakit.

Dikatakan Hasto, dalam pertemuan ini Hamzah Haz juga menyampaiakan keperhatinan beliau karena bangsa Indonesia saat ini mengalani kondisi miskin akhlak dan masyarakat miskin materi.

"Maka beliau mengusulkan agar BUMN memperhatikan aspek kesehatan masyarakat. Kemudian pendidikan negara sebagai basis moral dan etika bisa diperbaiki karena permasalahan saat ini terjadi akibat belum sinkronnya antara pendidikan moral dan budi pekerti sebagai modal untuk menjadi bangsa yang kuat dan tangguh," jelas Hasto.

Pada kesempatan sama, politikus senior PPP Habil Marati mengatakan bahwa bangsa Indonesia harus memahami bahwa negara ini ada karena dibangun atas hasil koalisi kaum Islam dan Nasionalis. Karena itu, pertemuan hari ini menjadi ajang merefresh tentang simbol dari tokoh Hamzah Haz dan Megawati Soekarnoputri ketika menjadi presiden dan wakil presiden. Padahal saat itu kondisi negara sangat sulit, tapi koalisi PDIP dan PPP dalam membangun bangsa Indonesia mampu melepaskan negara dari kondisi yang sulit itu.

"Jadi kalau sekarang ada yang bicara PDIP jauh dari Islam maka saya tegaskan dengan bukti, betapa simbol yang dibangun Ibu Mega dan Pak Hamzah Haz sudah menunjukkan bahwa Nasionalis dan Islam tidak bisa dipisahkan," jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa secara nyata dan kongkrit, Hamzah menceritakan bagaimana Megawati mengizinkan bahkan meminta agar Hamzah Haz sebagai wapres membuka acara FPI yang diadakah Habib Rizieq pertama kali di Ancol.

"Jadi sejak dulu Islam dan Nasionalis sudah bersama-sama. Dan negara kalau mau kuat maka koalisi Islam dan Nasionalis, antara PDIP dan PPP harus tetap dijaga. Tak bisa dipisahkan," imbuhnya.

Komentar

 
x