Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Oktober 2017 | 17:20 WIB

Viktor dan Bahaya Stigmatisasi HTI

Oleh : R Ferdian Andi R | Jumat, 4 Agustus 2017 | 19:11 WIB
Viktor dan Bahaya Stigmatisasi HTI
Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Viktor Laiskodat - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 2 Tahun 2017 tentang organisasi kemasyarakatan (ormas) telah diundangkan. Secara prosedural Perppu tersebut harus dibahas DPR untuk diterima atau ditolak menjadi undang-undang (UU). Sayangnya, mekanisme prosedural ini justru masuk pada wilayah kesesatan fikir dengan mempolitisasi sikap politik pihak lain.

Rekaman pidato Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Viktor Laiskodat telah menjadi viral di sejulah saluran social network dan media sosial sejak Kamis (3/8/2017). Materi pidato Viktor memang cukup provokatif dan sensitif. Pidato yang diselingi dengan bahasa daerah itu menyinggung soal keberadaan Perppu No 2 Tahun 2017.

Meski tidak menyebut organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang telah dibubarkan oleh pemerintah, Viktor menyebut ada upaya untuk mengganti NKRI menjadi negara khilafah yang berarti NKRI bubar. "Cilakanya, partai-partai pendukungya itu ada di NTT juga, yang dukung supaya ekstremis ini tumbuh di NTT, partai nomor satu satu Gerindra, partai nomor dua namanya Demokrat, partai nomor tiga namanya PKS, partai nomor empat namanya PAN," sebut Viktor.

Di bagian lain Viktor juga menjelaskan apa itu khilafah yang di awal telah ia singgung. Dalam penjelasan Viktor, khilafah itu menjadikan semua wajib salat. Khilafah, kata Viktor, juga anti perbedaan. "Negara khilafah tidak boleh ada perbedaan, semua harus salat," cetus Viktor.

Pernyataan Viktor ini jelas menyinggung empat partai politik yang memang sejak awal memiliki pandangan berbeda dengan partai politik pendukung pemerintah seperti Partai NasDem dalam melihat Perppu No 2 Tahun 2017 ini. Keempat partai ini melihat, Perppu No 2 Tahun 2017 ini melanggar prinsip negara demokrasi.

Penolakan empat partai politik terhadap Perppu No 2 Tahun 2017 bukan lantaran setuju atas agenda HTI, tapi mengkritisi prosedur pembubaran ormas yang dilakukan oleh pemerintah.

Sejumlah partai yang disebut Viktor mengambil langkah sigap dengan melaporkan Viktor ke aparat penegak hukum. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menilai pernyataan Viktor merupakan fitnah yang keji dan kejam. "Jelas-jelas ada satu tuduhan fitnah yang sangat kejam kepada Gerindra khusunya dan beberapa partai lainnya terkait dengan positioning Republik Indonesia," ujar Fadli di gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Jumat (4/8/2017).

Fadli menyayangkan pernyataan Viktor yang bernilai SARA. Padahal, kata Wakil Ketua DPR ini, persaingan dalam politik merupakan hal yang biasa. Hanya saja, dia mengingatkan agar dalam persaingan politik harus dilakukan dengan cara yang beradab. "Saya kira ada beberapa pihak di Gerindra akan segera melakukan pelaporan ke pihak kepolsian," tegas Fadli.

Selain Partai Gerindra, PAN dan PKS juga melakukan hal yang sama dengan melaporkan Viktor terkait pernyataannya yang telah menjadi viral di berbagai saluran media tersebut. PAN memberi ultimatum 3x24 jam kepada Victor untuk mengklarifikasi pernyataannya.

Sementara dari internal Partai NasDem justru memberi penilaian yang berbeda. Menurut anggota Fraksi Partai NasDem Ahmad M. Ali, pernyataan Viktor sama sekali tidak ada unsur provokasi. "Itu ekspresi keprihatinan Pak Viktor yang menjelaskan fakta politik hari ini, sebuah konfigurasi yang dijelaskan atas dasar-dasar empiris," sebut Ahmad.

Pernyataan Viktor yang merupakan petinggi partai politik koalisi pemerintah cukup memprihatinkan. Sikap politik terhadap sebuah Perppu disimplifikasi dengan dukungan terhadap ide yang diusung oleh sebuah ormas tertentu.

Stigmatisasi ini tentu tidak sehat dalam iklim demokrasi ini. Kelompok yang tidak setuju Perppu dicap sebagai pendukung khilafah, sedangkan yang setuju Perppu dicap sebagai pendukung NKRI. Logika ini tentu keluar dari koridor negara hukum dan sarat dengan pikiran kotor.

Komentar

 
x