Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 September 2017 | 03:07 WIB

Manuver SBY-Prabowo Usai, Terbitlah Perundungan

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 1 Agustus 2017 | 18:50 WIB
Manuver SBY-Prabowo Usai, Terbitlah Perundungan
Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto - (Foto: Inilahcom/Agus Priatna)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pertemuan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akhir pekan lalu rupanya memberi efek negatif bagi kedua tokoh tersebut. Habis SBY-Prabowo bermanuver, maka terbitlah perundungan. Pola yang selalu terulang.

Resonansi politik pertemuan SBY dan Prabowo Subianto, Kamis (27/7/2017) lalu rupanya memiliki dampak politik yang tidak sederhana. Setidaknya, pasca-pertemuan diskursus positif muncul. Mulai hal serius hingga bunga-bunga dalam pertemuan tersebut.

Sisi serius dari pertemuan tersebut soal rencana pertemuan politik lanjutan yang bakal digelar oleh Partai Gerindra ke sejumlah partai politik. Isu yang mempertemukan Partai Gerindra dan partai politik lainnya, termasuk Partai Demokrat tak lain lantaran persoalan presidential threshold (PT) sebesar 20 persen.

Selain itu, muncul kritik keras dari SBY maupun Prabowo Subianto baik terkait dengan polemik presidential threshold (PT) maupun soal perkembangan demokrasi di Indonesia. Beragam kritik itu muncul di tengah kesepakatan "hubungan tanpa status" antara dua partai politik tersebut.

Sisi menghibur dari pertemuan tersebut, soal menu makanan yang disuguhkan tuan rumah kepada tetamu yang hadir saat itu yakni nasi goreng gerobak. Tidak sedikit yang mengulas soal menu makanan tersebut.

Menariknya, foto saat kedua tokoh tersebut sedang menyantap nasi goreng, muncul meme yang beredar di publik soal kutipan yang seolah-olah dari kedua tokoh tersebut yang membincangkan nasi goreng yang rasa asinnya kurang dikarenakan garam saat ini harganya melambung. Meme ini tentu sarat dengan kritik terhadap pemerintah yang tidak mampu mengendalikan harga garam termasuk menjaga produktivitas garam di Tanah Air.

Bobot politik dan pemberitaan atas pertemuan dua tokoh itu cukup tinggi. Setidaknya, pertemuan tersebut menjadi berita utama di sejumlah media. Tak sedikit stasiun televisi menyiarkan secara langsung pertemuan tersebut. Pesan politik dari pertemuan tersebut juga tersiar secara luas.

Namun, di balik pertemuan tersebut, seperti dikomando muncul informasi yang tersebar di media sosial maupun di pemberitaan soal kedua tokoh tersebut. Mulai soal informasi Prabowo Subianto yang dipecat dari tentara oleh SBY, termasuk menyebarkan ulang pemberitaan mengenai rencana Jokowi yang akan melaporkan sejumlah proyek yang mangkrak ke KPK. Maksud dari penyebaran berita yang muncul pada November tahun lalu itu, memang dinisbatkan ke pemerintahan sebelumnya yakni saat SBY menjabat sebagai presiden.

Pola seperti ini juga muncul saat polemik Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Sikap politik SBY dan Partai Demokrat yang cenderung kritis terhadap kasus yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama dikait-kaitkan dengan sejumlah aksi massa yang mendesak penuntasan kasus Ahok melalui jalur hukum. Tudingan SBY di balik aksi massa tersebut juga mencuat kala itu.

Bahkan, mantan Ketua KPK Antasari Azhar menjelang pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta pada 15 Februari 2017 lalu juga "bernyanyi" menuding SBY terlibat dalam kasus kriminalisasi terhadap dirinya. Kini, usai hajatan pilkada, hiruk pikuk kasus yang disematkan ke SBY tak pernah muncul lagi.

Rupanya hal yang sama kini juga muncul usai pertemuan dua tokoh SBY dan Prabowo. Polanya hampir sama dengan akhir tahun lalu. Perundungan massal melalui media sosial secara vulgar muncul. Gugatan sekaligus cibiran disematkan kepada dua tokoh tersebut. Pengajar filsafat UI Roky Gerung melalui akun twitternya menuliskan di lini masanya "menghujat mantan itu kerjaan paling dungu dari orang picik," kicau Rocky di akun @rockygerung.

 
x