Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 21 November 2017 | 15:12 WIB

Abdul Latif Hilang Terseret Ombak di Perairan Bali

Oleh : - | Senin, 31 Juli 2017 | 17:13 WIB
Abdul Latif Hilang Terseret Ombak di Perairan Bali
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Negara - Ombak besar disertai angin kencang dan arus deras di Perairan Bali yang masuk dalam wilayah Kabupaten Jembrana, menelan korban lagi dari kalangan nelayan.

"Abdul Latif (41), nelayan dari Dusun Ketapang Muara, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, hilang saat dalam perjalanan pulang setelah usai menarik jaring," kata Kepala Dusun Ketapang Muara Jamal Asik di Negara, Senin (31/7/2017).

Dia menceritakan, sewaktu berangkat, dirinya sempat berpapasan dengan adik korban, karena itu dirinya menduga korban tercebur ke laut saat dalam perjalanan pulang.

Berdasarkan keterangan keluarga korban, yakni Nur Hasim, bahwa adik iparnya yang lain yang masih berada di laut diberitahu oleh nelayan yang melihat sampan berwarna kuning yang berputar-putar tanpa ada orangnya.

Ketika tahu bahwa sampan itu milik kakaknya, maka ia bersama dengan nelayan tersebut meluncur ke lokasi, namun tidak menemukan Latif, meskipun sudah berusaha mencari.

"Karena sampan Nur Hasim kecil, ia minta tolong kepada nelayan yang membawa sampan fiber untuk menarik sampan kakaknya itu ke pinggir. Ia sendiri segera mengabarkan hal tersebut kepada keluarganya," katanya.

Setelah mendapatkan kabar itu, beberapa nelayan lain melakukan pencarian ke tengah laut bersama tim Basarnas dan Polisi Perairan Polres Jembrana, namun informasi ini dilaporkan tercatat Latif belum ditemukan.

Sampan warna kuning milik Latif masih utuh saat ditemukan, termasuk jaring yang sudah dinaikkan dan berisi ikan.

Hanya pada bagian kemudi sampan yang patah, sehingga nelayan lain menduga, saat ombak besar menerjang sampannya, kemudi tersebut patah dan membuatnya terpental ke laut.

"Biasanya, nelayan mengendalikan kemudi dengan cara menjepitnya di ketiak agar kuat. Mungkin saat ombak besar menerjang sampannya, kemudinya patah dan membuatnya terpental," kata Naf'an, nelayan yang juga sahabat Latif.

Di kalangan nelayan, perairan tempat sampan Latif ditemukan, dikenal dengan istilah "ombak maling" karena ombak besar sering datang tiba-tiba di lokasi tersebut.

Holidin, anak pertama Latif yang berada di pantai menunggu pencarian bapaknya mengatakan, saat berangkat orang tuanya itu dalam kondisi kurang enak badan.

"Bapak memang seperti itu. Meskipun capek tetap berangkat melaut, padahal sudah dilarang," katanya.

Sementara itu, isteri Latif, Nur Aisyah, yang mendengar sampan suaminya ditemukan tanpa ada orangnya, langsung berlari dari rumahnya di Dusun Ketapang Muara menuju ke pantai di Dusun Ketapang yang jaraknya cukup jauh.

Sesampainya di pantai, setelah sempat histeris, ia pingsan dan ditolong oleh warga yang membawanya kembali ke rumahnya.

Sebelumnya, seorang nelayan di Desa Air Kuning, Kecamatan Jembrana juga hilang saat ombak besar menerjang sampannya, dan ditemukan meninggal dunia.

Menurut keterangan beberapa nelayan di Dusun Ketapang, Desa Pengambengan, belakangan ombak besar disertai angin kencang dan arus deras sering terjadi di perairan wilayah tersebut.

Sebelum Latif hilang, pada hari yang sama, Sugito, nelayan lainnya juga sempat tercebur ke laut setelah sampannya terbalik diterjang ombak sekitar 20 meter dari pantai.

Beruntung, ia bisa diselamatkan nelayan lainnya yang kebetulan lewat, meskipun cadik sampannya patah.

Nelayan yang menggunakan sampan di Desa Pengambengan, rata-rata memasang jaring pada sore atau petang hari, kemudian mengambilnya kembali ke laut saat dinihari.[tar]

Tags

Komentar

 
x