Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 Oktober 2017 | 11:36 WIB

Pekerja Sosial Bisa Terlibat Berantas Terorisme

Oleh : - | Kamis, 27 Juli 2017 | 14:01 WIB
Pekerja Sosial Bisa Terlibat Berantas Terorisme
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Persoalan pemberantasan terorisme harus menjadi ikhtiar semua pihak, termasuk para pekerja sosial (sosial worker). Ini karena ternyata penjara nyaris tidak memberi deterrance effect atau tidak membuat jera para pelakunya. Keterlibatan social worker melalui pendekatan integratif diharapkan akan mengurang dan menghilangkan istilah alumni LAPAS kembali jadi teroris.

Demikian disampaikan Dr. Siti Napsiyah Ariefuzzaman, dalam acara Seminar Internasional Social Work Consortium (AWCF) Conference, bertema "Growing Cooperation, Solidarity and Quality of Social Services in ASEAN" yang diselenggarakan (27/7) di Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta, Kamis (27/7/2017).

Dalam paparan berjudul "Social Work's Role in Rehabilitating Terrorist Prisoner and Family" dan "The role of social work on rehabilitation and deradicalization programmes in Indonesia", Napsiyah menjelaskan pada beberapa kasus, penjara justru menjadi school of radicalism atau menjadi semacam sentra pembibitan atau "naik kelas" bagi para teroris. Keluar dari penjara justru jadi semakin keras pahamnya dan kembali melakukan teror. Artinya, penjara belum berhasil membuat teroris sadar dan bertaubat sehingga upaya pemberantasan terorisme terhambat.

Doktor bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia ini menawarkan pendekatan baru yang disebutnya Social Work Integrative Approach, yaitu pendekatan yang melibatkan lintas profesi, lintas disipilin ilmu, yang dilakukan secara komprehensif pada level mikro, mezzo dan makro. Melalui pendekatan ini, seorang narapidana teroris akan mendapatkan pembinaan secara terencana dan sistematis yang melibatkan petugas lapas, ahli agama, psikolog, kriminolog dan ini tenaga profesional khusus yaitu social worker (pekerja sosial profesional).

"Social worker akan menjadi case manager (manajer kasus) yang bertanggung jawab menangani pembinaan narapidana terorisme sampai tuntas. Tuntas dalam pengertian selama di lapas mendapat pembinaan melalui program deradikalisasi, rehabilitasi, reintegrasi dan reentry. Seorang terpidana teroris diharapkan kembali ke masyarakat, diterima oleh masyarakat dan berperan dalam masyarakat," jelas dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwan dan Komunikasi, UIN Syarif Hidayatulla, Jakarta.

Dalam paparannya yang menggunakan Bahasa Inggris itu, Napsiyah menekankan pentingnya melibatkan pelibatan pekerja sosial (social worker) dalam pemberantasan terorisme. "Selama ini peran pekerja sosial sudah diakui dan diakomodir oleh negara di bidang perlindungan anak, disabilitas dan program kesejahteraan keluarga. Dengan melibatkan social work dalam program pemberantasan terorisme, khususnya dalam pembinaan terpidana teroris di Lapas dan Bapas, diharapkan bisa mendorong keberhasilan program secara lebih nyata," ungkapnya.

Seminar Internasional Social Work Consortium (AWCF) Conference, diselenggarakan oleh ISWC (Indonesia Social Work Consortium) bekerjasama sengan Kementrian Sosial Republik Indonesia diikuti peserta dari berbagai negara dan berlangsung dari tanggal 25 sampai dengan 29 Juli 2017 dan dibuka oleh Meteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa. [rok]

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x