Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 23 Agustus 2017 | 11:08 WIB

Nama Novanto Hilang dari Putusan Kasus e-KTP

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 20 Juli 2017 | 20:10 WIB
Nama Novanto Hilang dari Putusan Kasus e-KTP
(Foto: inilahcom/Agus Priatna)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Beberapa anggota dan pejabat Kemendagri tidak disebutkan Majelis Hakim Tipikor Jakarta atas kasus dugaan menerima aliran uang korupsi e-KTP. Hal itu berdasarkan amar putusan Irman dan Sugiharto di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat.

Selain nama Novanto, nama Yasonna H Laoly, dan mantan Ketua DPR RI, Marzuki Alie, juga tidak disebutkan dalam putusan terdakwa Irman dan Sugiharto.

Hakim dalam putusannya hanya menyebut dengan terang tiga nama yang turut serta menikmati uang proyek yang merugikan keuangan negara mencapai Rp 2,3 triliun itu.

Ketiganya adalah, bekas anggota Badan Anggaran dari Fraksi Hanura, Miryam S Haryani, Anggota DPR RI, Markus Nari, dan mantan Sekretaris Fraksi Golkar, Ade Komarudin.

Adapun uang yang diterima Markus berawal dari permintaa Markus terhadap Sugiharto. Politikus Partai Golkar itu minta uang kepada Irman karena ikut membantu meloloskan anggaran e-KTP tahap pertama.

Sementara itu, terkait aliran uang kepada Politikus Golkar Ade Komarudin sebesar USD 100 ribu diserahkan Sugiharto melalui Drajat Wisnu Setiawan.

"Bahwa selain itu, terdapat pihak lain yang diuntungkan oleh para tersakwa yakni Ade Komarudin sebesar USD 100 ribu," ujar Hakim Franky.

Putusan majelis hakim ini berbeda dengan dakwaan jaksa KPK, yang membeberkan rinci siapa saja yang ikut nikmati uang proyek senilai Rp5,9 triliun tersebut. Mulai dari politikus, partai, pejabat Kemendagri, hingga kementerian lainnya, serta korporasi.

Namun begitu, Ketua Tim Jaksa KPK, Irene Putrie enggan berkomentar lebih lanjut. Menurut Irene ini menjadi bahan kajian pihaknya. "Itu akan menjadi bahan kajian bagi kami. Nanti akan kami sampaikan," kata Jaksa KPK Irene Putri usai sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (20/7/2017).

Diketahui Irman divonis 7 tahun penjara dan Sugiharto divonis 5 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta. Keduanya dianggap telah menguntungkan diri sendiri, orang lain, dan korporasi. [ton]

 
x