Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 September 2017 | 04:53 WIB

Pilkada Sumsel 2018

Elektabilitas Syahrial Oesman Tertinggi

Oleh : - | Selasa, 18 Juli 2017 | 15:52 WIB
Elektabilitas Syahrial Oesman Tertinggi
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Jelang satu semester menuju masa pendaftaran ke KPUD, suasana politik di Sumatera Selatan semakin hangat. Para pemegang kebijakan di partai politik sedang sibuk-sibuknya membahas figur mana yang pas untuk diusung oleh partainya.

Demikian juga para kandidat alias bakal calon, mereka sibuk bersolek, menawarkan diri dan programnya ke masyarakat agar bisa dipercaya partai politik untuk diusung dalam Pilgub 2018 nanti. Yang menarik adalah hampir semua kandidat mendaftar ke banyak parpol. Tak terkecuali mereka yang menduduki jabatan ketua partai tingkat provinsi.

Secara faktual memang belum ada satupun partai politik yang bisa mengusung calon secara mandiri. Peta kursi DPRD Sumatera Selatan menunjukan minimal partai harus berkoalisi dengan satu partai lain, itupun untuk partai papan atas. Jumlah kursi DPRD yang dimiliki PDI Perjuangan adalah 13 kursi, Partai Demokrat 11 kursi, Partai Golkar 10 kursi, Partai Gerindra 10 kursi, PAN 6 kursi, PKB 6 kursi, Partai Hanura 5 kursi, partai Nasdem 5 kursi, PKS 5 kursi, PPP 2 kursi dan PBB 2 kursi. Adapun syarat minimal raihan kursi DPRD untuk mendaftar jadi Gubernur & Wakil Gubernur adalah 15 kursi.

Para ketua partai tingkat provinsi yang sudah kampanye dini dan mendaftar ke berbagai partai adalah Syahrial Oesman, Ishak Mekky, Aswari Riva'i dan Giri Ramanda Kiemas. Nama putera Alex Noerdin yang baru saja dilantik jadi Bupati Muba, Doddi Reza juga disebut-sebut akan maju.

Pengamat Pilkada Sumsel dari kantor Stratakindo Research & Consulting Octarina Sorbardjo menyatakan, sangat mungkin akan muncul tiga sampai empat pasang cagub dan cawagub melihat posisi bargain masing-masing partai dan ketuanya.

Octarina menyatakan figur seperti Syahrial Oesman tidak mungkin mau dicalonkan jadi wakil gubernur, selain karena menjabat sebagai ketua partai, yang bersangkutan adalah mantan gubernur dan cukup punya pendukung fanatik yang tak terbantah.

Demikian juga Ishak Mekky yang merupakan petahana wakil gubernur, pasti akan ngotot maju jadi cagub karena merasa ini saatnya yang tepat menang, selain karena menjabat ketua partai, posisinya sebagai petahana wagub dipandangnya sebagai modal politik yang memadai.

"Sosok seperti Giri, Aswari dan Doddi juga maunya pasti di nomor satu, semua maunya jadi gubernur," ungkapnya.

Octa menambahkan, dengan posisi bargain yang keras seperti itu, maka jalan keluar untuk menentukan siapa yang akan diusung dan dengan partai apa berkoalisi adalah fakta politik di lapangan. Siapa paling punya peluang untuk menang dan kredibilitas pengukurannya diakui secara ilmiah maka dia pantas diusung.

"Sederhananya parpol harus mengusung figur yang elektabilitasnya tinggi dan trend-nya menaik. Jangan terjebak dengan posisi pertama atau kedua tapi cek melalui survei berkala, seperti apa trend-nya," demikian Octa menjelaskan.

Octa mengungkapkan data yang dimiliki lembaganya, berdasar tiga kali survei yang dilakukan stratakindo sejak Juni 2016, November 2016 dan Juni 2017, pola kekuatan figur sudah terlihat. Para ketua partai yang disurvei berada di tiga level posisi yaitu level atas, tengah dan bawah. Posisi Giri Ramanda Kiemas yang menjabat Ketua PDI Perjuangan Sumsel, dalam tiga survei yang dilakukan lembaganya selalu berada di level bawah.

"Ini pahit dikatakan tapi faktanya begitu, suara partai tidak sebanding lurus dengan suara ketua partainya," jelasnya.

Sementara Ishak Mekky cenderung stagnan di level tengah. Ketua Partai Demokrat Sumsel ini selalu berada di kisaran 10 sampai 12 persen, sementara Aswari Riva'i malah punya trend menurun dari level tengah ke level bawah. Doddi Reza Alex yang menjabat Korwil Pemenangan Sumsel DPP Golkar, posisi elektabilitasnya berada di kisaran 7 sampai 9 persen.

"Hanya Syahrial Oesman, ketua Partai Nasdem Sumsel yang memiliki trend elektabilitas menaik secara konsisten. Pada survei Juni 2016, elektabilitasnya berada di angka 14,3 persen, pada survei November 2016 berada di kisaran 16,4 persen dan survei Juni 2017 berada di angka 20,7 persen," demikian penjelasan Octa.

Octa menyebut nama Herman Deru sebagai satu-satunya pesaing Syahrial. Namun demikian, Octa menilai kans Deru untuk diusung parpol cenderung sempit.

"Agak sulit diusung karena para ketua parpol sebagian besarnya maju dan mereka punya basis suara, jikapun ada parpol yang mengusung pasti proses negosiasi luar biasa rumit dan panjang. Deru harus memertimbangkan maju lewat jalur perseorangan, masih ada waktu dan kalau dia mau, harusnya bisa," ujarnya. [rok]

 
x