Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 26 Juli 2017 | 15:41 WIB

Pejabat Bakamla Minta KPK Tangkap Ali Fahmi

Oleh : Indra Hendriana | Senin, 17 Juli 2017 | 15:10 WIB
Pejabat Bakamla Minta KPK Tangkap Ali Fahmi
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Deputi Informasi, Hukum, dan Kerja Sama, Badan Keamanan Laut (Bakamla) Eko Susilo Hadi meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera menangkap Politikus PDI-P Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi.

Demikian disampaikan Eko seusai Mejelis hakim membacakan amar putusan terkait perkara suap proyek sateli monitoring di lingkungan Bakamla. Eko mempertegas Ali Fahmi ikut terlibat dalam kasus suap yang telah menjerat dirinya. Dia merupakan staf khusus Kepala Bakamla Laksamana Madya Arie Soedewo.

"Ya itu urusan KPK, tapi saya berharap dia (Ali Fahmi) ditangkap dan disidangkan, itu saja ya," kata Eko di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin (17/7/2017).

Eko divonis 4 tahun 3 bulan penjara. Ia juga diwajibkan membayar denda Rp 200 juta subsider 2 bulan kurungan. Eko selaku kuasa pengguna anggaran (KPA) Satuan Kerja Bakamla Tahun Anggaran 2016 terbukti menerima USD 10.000, Euro 10.000, SGD 100.000, dan USD 78.500 dari Direktur Utama PT Melati Technofo Indonesia, Fahmi Darmawansyah.

Eko pada saat diperiksa sebagai terdakwa menyebut Ali Fahmi adalah pelaku utama pada kasus suap ini. Sebab, kata Eko, sejak awal Fahmi Habsy yang mempertemukan Bakamla dengan Direktur Utama PT Melati Technofo Indonesia, Fahmi Darmawansyah.

KPK sebelumnya mengatakan pengusutan kasus suap pengadaan satelit monitoring di Bakamla masih dikembangkan. Termasuk mengusut dugaan keterlibatan Fahmi Habsy dalam kasus ini.

"Karena tentu penyidik KPK akan mencari bukti-bukti sebanyak-banyaknya dan sekuatnya untuk kembangkan kasus ini mengenai pembahasan anggarannya (di DPR)," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah beberapa waktu lalu.

Dugaan keterlibatan Ali Fahmi dalam kasus ini juga pernah dikemukakan oleh pemilik PT MTI Fahmi Darmawansyah. Bahkan suami Inneke Koesherawati menyebut ada sejumlah anggota DPR juga ikut terlibat, diantaranya adalah, anggota DPR RI, seperti Fraksi Golkar, Fayakun Andriadi, dari PKB, Bertus Merlas, dan dari PDIP, Eva Sundari. Mereka disebut suami Inneke Koesherawati itu menerima uang Rp 24 miliar untuk menggiring anggaran proyek di Bakamla.

Menurut Febri, materi yang dibongkar Fahmi telah masuk pengembangan. Febri memastikan tak akan membiarkan para anggota DPR dimaksud bila ditemukan bukti-bukti yang cukup.

"Kan biasa di KPK, awalnya itu adalah kasus suapnya, lalu berkembang ke proses pembahasan anggaran. Sepanjang buktinya cukup kami akan tingkatkan status mereka yang diduga terlibat suap (penggiringan dana proyek Bakamla) itu," kata Febri.

Dalam Berita Acara Pemeriksaan, Fahmi menyebut enam persen dari nilai dua proyek Rp 400 miliar atau Rp 24 miliar terkait proyek satelit monitoring dan drone Bakamla, telah diberikan kepada sejumlah anggota DPR. Pemberian itu melalui Fahmi Al Habsy untuk memperlancar pembahasan anggaran DPR.

"Uang saya berikan kepada Ali Fahmi alias Fahmi Al Habsy untuk mengurus proyek satelit monitoring di Bakamla melalui Balitbang PDI-P Eva Sundari, anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB Bertus Merlas, anggota Komisi I DPR dari Fraksi Golkar Fayakun Andriadi, Bappenas, dan Kementerian Keuangan," kata Fahmi.

Meski demikian, sejumlah anggota DPR yang disebutkan tadi telah membantah terlibat kasus proyek di Bakamla. [rok]

Tags

 
Embed Widget

x