Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 24 Agustus 2017 | 13:33 WIB

Waspadai Doktrin Radikal di Kalangan Anak Muda

Oleh : Agus Irawan | Minggu, 16 Juli 2017 | 10:30 WIB
Waspadai Doktrin Radikal di Kalangan Anak Muda
Pengamat terorisme dari Institute For Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi - (Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta- Pengamat terorisme dari Institute For Security and Strategic Studies ( ISESS), Khairul Fahmi menilai pelaku aksi teror selama ini tak sekadar berkaitan dengan kelompok radikal ISIS.

Lebih jauh dari itu, menurutnya pelaku teror saat ini didominasi oleh anak muda yang masih memiliki kepribadian labil di dalam dirinya.

"Karakteristik anak muda itu kan adanya antusiasme, semangat bertualang, anti kemapanan," kata Fahmi kepada INILAHCOM, Jakarta, Minggu (16/7/2017).

Ia menilai motivasi para pelaku teror dari kalangan anak muda ini disebabkan karena faktor kegalauan. Mereka gusar terhadap situasi dunia yang berjalan tidak baik.

"Mereka menganggap orang lain tak mampu berbuat apa pun untuk mengubah keadaan. Mereka punya persepsi diabaikan, merasa diperlakukan tidak adil, tak berdaya dan tak punya pilihan selain melakukan tindakan nyata," jelasnya.

Adapun dengan karakteristiknya, lanjutnya, anak muda terutama yang dangkal dan disosiatif akan lebih mudah untuk tergerak menjadi pelaku teror.

"Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar, 'kalau bukan kita, siapa lagi?' 'kalau bukan sekarang, kapan lagi?'. Dengan aksi-aksi yang mereka anggap sebagai jihad, sebagai bentuk heroisme untuk mengubah wajah dunia menjadi lebih baik, lebih adil dan sesuai persepsi mereka," paparnya.

Menurutnya, para ideolog, propagandis hingga agitator yang dianggap sebagai patron dan yang lebih memahami keadaan, mendorong mereka untuk melakukan tindakan-tindakan ekstrim.

"Jadi rekrutmen terhadap anak-anak muda ini bukanlah suatu proses radikalisasi. Ini proses ideologisasi, indoktrinasi yang tentu saja jauh dari definisi radikal sebagai sebuah pemikiran yang mendalam," ujarnya.

Lebih dari itu, melalui kemajuan teknologi dan arus informasi dewasa ini, tak diperlukan kontak langsung antara ideolog patron dengan calon pelaku.

"Ini menjawab, mengapa teror tak hanya dilakukan secara terorganisir oleh kelompok-kelompok besar. Namun juga secara tak terorganisir, oleh kelompok mikro, atau pelaku-pelaku tunggal (lonewolf)," katanya. [rym]

 
x