Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 26 Juli 2017 | 23:45 WIB

Mendes Akui Pernah Bertemu dengan Tersangka BPK

Oleh : Indra Hendriana | Jumat, 14 Juli 2017 | 16:16 WIB
Mendes Akui Pernah Bertemu dengan Tersangka BPK
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo menyelesaikan pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus suap pemberian predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) oleh BPK kepada kementerian yang dipimpinan.

Kepada awak media, Eko mengaku pernah bertemu dengan mantan Auditor Utama Negara III Rochmadi Sapto Giri (RSG), tersangka dalam kasus ini. Ia mengaku pertemuan dilakukan sebanyak dua kali, namun, Eko mengklaim beberapa kali pertemuan itu bukan bersifat khusus.

"Saya bertemu khusus belum pernah, kalau di acara ada beberpa kali. Dua kali," kata Eko seusai diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Rochmadi Sapto Giri, di gedung KPK, Jakarta, Jumat (14/7/2017)

Pertemun itu, kata dia, untuk perbaikan di kementerian yang dipimpinnya. Disanalah dirinya mengenal Rochmadi.

"Pak Rohmadi saya ketemu di acara-acara, kan di kementerian saya kan demi untuk memperbaiki administrasi. Pimpinan BPK- Kemenpan sering kali mengadakan acara semacam pencerahan karyawan pada acara itu BPK datang, pak Rochmadi datang, itu saya kenal disitu," ujar Eko.

Dia mengaku tidak terlibat dalam kasus dugaan suap tersebut. Eko juga mengklaim bahwa dirinya tak pernah memengaruhi Inspektur Jenderal Kementerian Desa, Sugito, untuk menyuap auditor BPK.

Diketahui KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka dalam kasus ini. Keempat tersangka itu yakni, eselon 1 BPK atau Auditor Utama Negara III Rochmadi Sapto Giri (RS); Ali Sadli (AS) selaku Auditorat BPK; Inspektur Jendral Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Sugito; dan Jarot Budi Prabowo, Eselon III Kemendes.

Sugito yang merupakan Ketua saber Pungli Kemendes PDTT ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga menyuap Rochmadi Sapto Giri dan Ali Sadli. Suap itu melalui perantara Jarot Budi Prabowo.

Rochmadi Sapto Giri dan Ali Sadli diduga menerima suap dengan total 240 juta. Saat tangkap tangan, ditemukan uang Rp 40 juta di ruangan Ali Sadli. Sebelumnya diawal Mei 20017 diduga telah diserahkan uang Rp 200 juta.

KPK mensinyalir uang yang digunakan Sugito dan Jarot Budi Prabowo untuk menyuap Rochmadi Sapto Giri dan Ali Sadli berasal dari patungan atau saweran. Uang diduga berasal dari patungan sejumlah pihak di internal Kemendes PDTT.

Atas perbuatan itu, Sugito dan Jarot Budi Prabowo yang diduga sebagai pemberi dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 5 ayat (1) hurub b atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 199 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 64 KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Rochmadi Sapto Giri dan Ali Sadli yang diduga sebagai penerima disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 199 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 64 KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. [fad]

 
x