Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 26 Juli 2017 | 23:44 WIB

Djamal Aziz Mengaku Tak Paham Soal Proyek e-KTP

Oleh : - | Kamis, 13 Juli 2017 | 14:42 WIB
Djamal Aziz Mengaku Tak Paham Soal Proyek e-KTP
Mantan Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai Hanura di Komisi II DPR RI Djamal Aziz - (Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai Hanura di Komisi II DPR RI Djamal Aziz mengaku tidak mengerti sama sekali soal proyek pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP).

"Ternyata saya itu tidak mengerti sama sekali tentang KTP-E ini, soalnya saya Agustus 2010 itu sudah pindah ke Komisi X DPR," kata Djamal sesuai diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus e-KTP di gedung KPK, Jakarta, Kamis (13/7/2017).

Hari ini memeriksa Djamal Aziz sebagai saksi dalam penyidikan tindak pidana korupsi pengadaan paket penerapan KTP berbasis nomor induk kependudukan secara nasional itu untuk tersangka Andi Agustinus alias Andi Narogong.

"Jadi, hampi tidak 'ngerti' kan reses itu kalau tidak salah masuk 15 Agustus 2010 terus upacara (kemerdekaan) Agustus-an, surat dari fraksi saya itu 18 Agustus sudah dikirim ke Komisi II DPR bahwa saya dipindah ke Komisi X DPR, jadi hampir praktis tidak mengerti sama sekali," kata Djamal.

Ia juga menyatakan bahwa pada saat duduk di Komisi II DPR RI dirinya tidak berada di Panitia Kerja (Panja) Otonomi Daerah (Otda) di bawah Kementerian Dalam Negeri, sehingga tidak tahu soal rapat pembahasan proyek pengadaan e-KTP itu.

"Tidak tahu, kebetulan saya tidak di bawah Panja Otda, Otda itu kan di bawah Kemendagri, saya tidak di situ saya kebetulan di Panja Pertanahan di bawah Badan Pertanahan Nasional (BPN) jadi saya tidak ada korelasinya gitu," ucap Djamal.

Ia juga mengaku tidak kenal dengan Andi Narogong. "Tidak kenal," jawab Djamal singkat.

Djamal mengaku tidak mengerti terkait namanya yang ada di dalam dakwaan KTP-e dan menerima aliran dana sebesar 37 ribu dolar AS.

Ia menyatakan pada saat dirinya diperiksa, penyidik menunjukkan bahwa kasus proyek pengadaan KTP-e terjadi pada 2011-2012, namun dirinya sudah dipindahkan ke Komisi X pada Agustus 2010.

"Makanya saya tidak ngerti, yang ngomong itu yang kamu tanya saya tidak ngerti. Itu kan di penyidik ditulis itu kan dimulainya September 2011 sampai 2012. Bagaimana saya harus ngerti?," ucap Djamal.

Dalam dakwaan, Djamal Aziz yang saat itu Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai Hanura di Komisi II DPR RI disebut menerima 37 ribu dolar AS terkait proyek KTP-e sebesar Rp5,95 triliun itu.

Terdakwa dalam kasus ini adalah mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Irman dan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Kemendagri Sugiharto.

Irman sendiri sudah dituntut 7 tahun penjara sedangkan Sugiharto dituntut 5 tahun penjara.

Sementara Andi Narogong yang masih berstatus tersangka disangkakan melanggar pasal 2 ayat (1) atas pasal 3 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal 20 tahun denda paling banyak Rp1 miliar.[tar]

Tags

 
x