Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 September 2017 | 19:49 WIB

Kejagung Segera Umumkan Tersangka Kasus Mobile8

Oleh : Ivan Setyadi | Kamis, 6 Juli 2017 | 23:00 WIB
Kejagung Segera Umumkan Tersangka Kasus Mobile8
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Arminsyah - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kejaksaan Agung segera menetapkan tersangka kasus dugaan restitusi pajak PT Mobile8 menyusul telah diterbitkannya Surat Perintah Penyidikan baru.

Sebelumnya Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan gugatan praperadilan dua tersangka kasus tersebut. Kedua tersangka itu, Anthony Chandra Kartawiria, Direktur PT First Media dan Direktur PT Djaja Nusantara Komunikasi (DNK) Hary Djaja.

"Sprindik barunya belum ada tersangkanya, kemungkinan dua orang sebelumnya jadi tersangka kembali," kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Arminsyah di Jakarta, Kamis (6/7/2017).

Ia menegaskan kasus Mobile8 itu, murni perkara korupsi bukan perkara pajak. Terkait pemeriksaan hary Tanoesoedibjo, Arminsyah memastikan akan melakukan pendalaman.

"Saksi Hary Tanoe selaku komisaris (Mobile8) kita periksa sebagai saksi, ditanyakan sejauh mana yang dia ketahui dan alami karena menurut saksi (lainnya) bahwa untuk uang pembelian voucher itu adalah pembelian pura-pura," katanya.

Sebanyak 30 pertanyaan dilontarkan penyidik kepada Hary Tanoe berkaitan dengan pembelian voucher dari PT Delta dan kemudian mengajukan restitusi pajaknya.

"Jadi seolah-olah ada transaksi padahal tidak ada, bahkan dari perusahaan mobile8 itu ada uang yang dikirim ke PT Bhakti Investasi sebesar Rp80 miliar. Uang tersebut untuk PT DNK seolah-olah dia membeli," ujarnya.

PT Mobile8 Telecom diduga telah melakukan manipulasi atas transaksi penjualan produk telekomunikasi di antaranya telepon seluler dan pulsa kepada distributor di Surabaya, PT DNK senilai Rp80 miliar selama 2007-2009.

Pada Desember 2007 PT Mobile 8 Telecom telah dua kali mentransfer uang, masing-masing Rp50 miliar dan Rp30 miliar.

Untuk mengemas seolah-olah terjadi transaksi perdagangan pihak PT Mobile 8, invoice dan faktur yang sebelumnya dibuatkan purchase order yang seolah-olah terdapat pemesanan barang dari PT DNK, tapi faktanya PT DNK tidak pernah menerima barang dari PT Mobile 8 Telecom.

Pertengahan 2008, PT DNK kembali menerima faktur pajak dari PT Mobile 8 Telecom dengan nilai total Rp114.986.400.000, padahal PT DNK tidak pernah bertransaksi sebesar itu, tidak pernah menerima barang dan bahkan tidak pernah melakukan pembayaran.

Diduga faktur pajak yang telah diterbitkan yang seolah-olah ada transaksi-transaksi antara PT Mobile 8 Telecom dengan PT DNK, digunakan oleh PT Mobile 8 Telecom untuk pengajuan kelebihan pembayaran (restitusi pajak) kepada kantor Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Surabaya, supaya masuk bursa di Jakarta.

Pada 2009 PT Mobile 8 Telecom menerima pembayaran restitusi sebesar Rp10.748.156.345, yang seharusnya perusahaan tersebut tidak berhak atau tidak sah penerimaan kelebihan pembayaran pajak tersebut.

 
x