Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 26 Juli 2017 | 15:42 WIB

Hary Tanoe Minta Pemeriksaan Diundur Pekan Depan

Oleh : Ahmad Farhan Faris | Selasa, 4 Juli 2017 | 15:44 WIB
Hary Tanoe Minta Pemeriksaan Diundur Pekan Depan
Kuasa Hukum Hary Tanoesoedibjo, Hotman Paris Hutapea - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kuasa Hukum Hary Tanoesoedibjo, Hotman Paris Hutapea mengirimkan surat penundaan pemeriksaan kliennya atas kasus pesan singkat bernada ancaman kepada Jaksa Yulianto yang dijadwalkan seharusnya hari ini Selasa (4/7/2017).

Surat itu ditujukan kepada Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Mohammad Fadil Imran dan penyidik AKBP Purnomo dengan alamat Jalan Taman Jatibaru, Cideng, Jakarta Pusat pada Selasa (4/7), perihal permohonan penundaan pemeriksaan tersangka Hary Tanoe.

Dalam surat itu dituliskan, Kami bertindak untuk dan atas nama Hary Tanoesoedibjo berdasarkan surat kuasa tanggal 4 Juli 2017 sebagaimana terlampir. Menunjuk kepada Surat Panggilan Nomor: S.Pg/97/VI/2017/Dittipidsiber tanggal 22 Juni 2017 yang memanggil Hary Tanoe selaku tersangka untuk diperiksa pada 4 Juli 2017 atas Laporan Polisi Nomor: LP/100/I/2016/Bareskrim tanggal 28 Januari 2016.

Dengan ini, kami beritahukan bahwa Hary Tanoe berhalangan untuk hadir dalam pemeriksaan tanggal 4 Juli 2017 disebabkan satu dan lain hal yang tidak dapat ditinggalkan. Sehingga, Hary Tanoe memohon kepada penyidik agar pemeriksaan tersebut dapat diundur paling cepat pada hari Selasa, 11 Juli 2017 atau hari-hari setelahnya.

Kasus ini awal terjadi ketika Yulianto mendapatkan sebuah pesan singkat dari orang tak dikenal pada 5 Januari 2016 sekitar pukul 16.30 WIB dari Bos MNC Grup Hary Tanoesoedibjo dengan isi pesan sebagai berikut:

'Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan.'

Yulianto awalnya mengabaikan pesan tersebut, namun pada 7 Januari dan 9 Januari 2016, dari nomor yang sama pada saat Yulianto mendapatkan sebuah pesan, dirinya kembali lagi mendapatkan pesan yang kali ini melalui sebuah aplikasi chat media sosial yaitu WhatsApp.

Pesan yang ia terima saat itu dengan forward pesan yang sama, hanya ada beberapa kata yang ditambahkan oleh nomor tersebut. 'Kasihan rakyat yang miskin makin banyak, sementara negara lain berkembang dan semakin maju.'

Usai mendapatkan pesan kedua, Yulianto langsung melakukan pengecekan. Setelah mengecek, Yulianto yakin bahwa pesan singkat yang diterimanya itu dikirim oleh Hary Tanoesoedibjo.

Setelah mengetahui bahwa itu adalah HT yang mengirimkan sebuah pesan, Yulianto langsung melaporkan HT ke Siaga Bareskrim Polri atas dugaan melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Akhirnya, penyidik Polri menetapkan bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo alias HT sebagai tersangka kasus SMS bernada ancaman ke Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Yulianto.[ris]

 
Embed Widget

x