Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 26 Juli 2017 | 23:46 WIB

Kasus Hary Tanoesoedibjo

Ajukan Praperadilan, HT Mangkir Dipanggil Polri?

Oleh : Ahmad Farhan Faris | Selasa, 4 Juli 2017 | 14:42 WIB
Ajukan Praperadilan, HT Mangkir Dipanggil Polri?
Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo mangkir dari panggilan penyidik Bareskrim Polri sebagai tersangka kasus pesan singkat bernada ancaman kepada Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto pada Selasa (4/7/2017).

Berdasarkan dokumen yang diperoleh INILAHCOM, Hary Tanoe tampaknya tidak hadir karena telah mengajukan gugatan permohonan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atas penetapan status tersangka oleh Bareskrim Polri.

Dari dokumen tersebut, tertulis Surat Panggilan atas perkara Nomor 71/Pid.Prap/PN.Jkt.Sel. Pada Senin 3 Juli 2017, Ratih Widaningsih selaku Jurusita Pengadilan pada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, diperintahkan dan ditunjuk oleh Hakim Ketua Majelis Pengadilan tersebut untuk menjalankan/melaksanakan tugas pemanggilan.

Telah memanggil dengan resmi kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) cq Badan Reserse Kriminal Polri cq Direktorat Tindak Pidana Siber yang berkedudukan di Jalan Trunojoyo 3, Kebayoran Baru, Jakarta 12110, selanjutnya disebut sebagai Termohon Praperadilan.

Supaya ia/mereka datang menghadap di Persidangan Umum Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan pada Hari Senin, 10 Juli 2017 pukul 10.20 Wib.

Perlunya hadir di persidangan nanti untuk diperiksa dalam perkara Praperadilan yang diajukan oleh Pemohon Hary Tanoesoedibjo, terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tertanggal 20 Juni 2017, Nomor 71/Pid.Prap/PN.Jkt.Sel.

Atas perintah hakim tersebut, pekerjaan ini saya jalankan di alamat tersebut diatas. Kepada Termohon Praperadilan, saya serahkan turunan surat permohonan Pemohon dengan diberitahukan pula bahwa ia/mereka dapat mengajukan jawaban atas permohonan tersebut dengan tertulis/lisan yang ditandatangani olehnya sendiri atau kuasanya yang sah untuk itu dan diserahkan pada hari persidangan.

Kasus ini awal terjadi ketika Yulianto mendapatkan sebuah pesan singkat dari orang tak dikenal pada 5 Januari 2016 sekitar pukul 16.30 WIB dari Bos MNC Grup Hary Tanoesoedibjo dengan isi pesan sebagai berikut:

'Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan.'

Yulianto awalnya mengabaikan pesan tersebut, namun pada 7 Januari dan 9 Januari 2016, dari nomor yang sama pada saat Yulianto mendapatkan sebuah pesan, dirinya kembali lagi mendapatkan pesan yang kali ini melalui sebuah aplikasi chat media sosial yaitu WhatsApp.

Pesan yang ia terima saat itu dengan forward pesan yang sama, hanya ada beberapa kata yang ditambahkan oleh nomor tersebut. 'Kasihan rakyat yang miskin makin banyak, sementara negara lain berkembang dan semakin maju.'

Usai mendapatkan pesan kedua, Yulianto langsung melakukan pengecekan. Setelah mengecek, Yulianto yakin bahwa pesan singkat yang diterimanya itu dikirim oleh Hary Tanoesoedibjo.

Setelah mengetahui bahwa itu adalah HT yang mengirimkan sebuah pesan, Yulianto langsung melaporkan HT ke Siaga Bareskrim Polri atas dugaan melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Akhirnya, penyidik Polri menetapkan bos MNC Group Hary Tanoesoedibjo alias HT sebagai tersangka kasus SMS bernada ancaman ke Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Yulianto.[ris]

 
x