Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 19 Oktober 2017 | 12:39 WIB

Pendidikan 8 Jam Sehari

Jangan Cuma di Kota, Coba Lihat Pendidikan di Desa

Oleh : Ivan Setyadi | Jumat, 23 Juni 2017 | 05:28 WIB
Jangan Cuma di Kota, Coba Lihat Pendidikan di Desa
Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti - (Foto: ANTARA)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Salah satu alasan penerapan sistem belajar 8 jam sehari ala Mendikbud Muhadjir Effendy alasan untuk menekan angka kenakalan siswa diluar jam sekolah.

Namun nyatanya, alasan tersebut hanya berlaku dikota-kota besar dengan sistem pendidikan yang sudah memadai.

"Karena di pedesaan, pulang sekolah anak-anak justru membantu orangtuanya bekerja. Ada yang bantu di kebun, di sawah, mengurus hewan ternak, mencari daun cengkih kering, membuat batu bata dan lain-lain," kata Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti kepada INILAHCOM, Kamis (23/6/2017).

"Indonesia bukan Jakarta. Indonesia juga bukan hanya kota. Kebijakan tersebut berangkat dari pikiran masyarakat kota besar," sambungnya.

Sehingga menurutnya, kualitas pendidikan itu tidak ditentukan oleh lamanya belajar di sekolah."Bantu orangtua juga bagian dari Pendidikan karakter. Karakter anak bisa dibangun dimana saja tidak hanya disekolah," tandasnya.

Mendikbud sebelumnya berencana menerapkan sistem belajar 8 jam sehari disekolah, alasannya, untuk mengembangkan karakter anak melalui pendidikan. Nantinya, waktu delapan jam disekolah, tidak melulu belajar dikelas mendengarkan guru. Melainkan akan diisi dengan kegiatan ekstakulikuler.

Namun, belum juga kebijakan itu berjalan, komentar negatif mengiringi rencana mendikbud tersebut. Hingga akhirnya Presiden memerintahkan agar mengkaji kembali kebijakan sistem belajar 8 jam sehari itu.

Komentar

 
Embed Widget

x