Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 26 September 2017 | 07:15 WIB

Patrialis Kesal Disebut Ditangkap dengan Wanita

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 13 Juni 2017 | 15:25 WIB
Patrialis Kesal Disebut Ditangkap dengan Wanita
Mantan Hakim Konstitusi, Patrialis Akbar - (Foto: inilah.com/Agus Priatna)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Hakim Konstitusi, Patrialis Akbar merasa kesal lantaran disebut tengah bersama wanita pada saat ditangkap oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), beberapa waktu lalu.

Menurut Patrialis, kabar adalah upaya untuk membunuh karakterya sebagai hakim di MK. Demikian disampaikan Patrialis dihadapan majelis hakim usai mendengarkan dakwaan dari Jaksa KPK.

"Ini cara menghancurkan karakter saya di depan publik. Sebagian media membuat berita dahsyat, penuh fitnah, gibah, gunjing. Saya dikatakan ditangkap bersama wanita, bahkan tertangkap di 3 tempat sekaligus, tempat esek-esek, kos mewah dan di Grand Indonesia," kata Patrialis dihadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (13/6/2017).

Diketahui saat penangkapan, KPK memang membawa seorang wanita yang bersama-sama dengan Patrialis saat operasi tangkap tangan. Namun, wanita tersebut dibebaskan setelah menjalani pemeriksaan di Gedung KPK.

Sementara pihak Jaksa KPK Lie Setiawan mengatakan, tidak akan menanggapi apa yang dikatakan Patrialis tersebut. Sebab, keluhan patrialis terkait pemberitaan di media massa.

Patrialis didakwa menerima suap senilai USD 70.000, Rp4 juta dan dijanjikan uang Rp2 miliar yang belum terlaksana. Uang itu diberikan agar Patrialis membantu memenangkan putusan uji materi UU No 41 tentang peternakah dan kesehatan hewan.

Meski bukan pemohon uji materi, Basuki dan stafnya Ng Fenny memiliki kepentingan apabila uji materi tersebut dimenangkan. Misalnya, dengan dimenangkannya gugatan, maka impor daging kerbau dari India akan dihentikan.

Dimana dengan berlakunya UU Nomor 41 Tahun 2014, pada pertengahan tahun 2016, Pemerintah telah menugaskan Bulog untuk mengimpor dan mengelola daging kerbau dari India, sehingga berakibat pada ketersediaan daging sapi dan kerbau lebih banyak dibandingkan permintaan. Kemudian, harga daging sapi dan kerbau menjadi lebih murah.

"Akibat kondisi tersebut, permintaan terhadap daging sapi yang biasanya diimpor oleh terdakwa dari Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat menurun," kata Lie.

Guna memperlancar pemberian uang suap, Basuki tidak langsung memberikan uang itu kepada Patrialis, melainkan melalui teman dekatnya bernama Kamaludin. Meski begitu, perbuatan mereka masih terungkap oleh KPK.

Atas perbuatan tersebut, Patrialis didakwa melanggar Pasal 12 huruf c jo Pasal 18 atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.[jat]

 
x