Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 28 Juni 2017 | 10:40 WIB

Ingin Kabur, Napi Teroris Dipindah ke Lapas Malang

Oleh : - | Senin, 12 Juni 2017 | 16:40 WIB
Ingin Kabur, Napi Teroris Dipindah ke Lapas Malang
(Foto: beritajatim)
facebook twitter

INILAHCOM, Bojonegoro - Siang tadi seorang narapidana kasus aksi terorisme dipindahkan dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Bojonegoro ke Lapas Kelas I Malang.

Pemindahan itu dilakukan karena pelaku sudah dua kali mencoba melarikan diri. Proses pemindahan dikawal ketat oleh Petugas Kepolisian dari Polres Bojonegoro. Bahkan dengan menggunaan persenjataan lengkap, Senin (12/6/2017).

Kepala Lapas Kelas II A Bojonegoro, Jumadi mengatakan, pemindahan napi kasus terorisme yang bernama Azmi Fuadi ini setelah melalui beberapa pertimbangan dan sesuai dengan petunjuk pimpinan.

"Untuk menjaga agar tidak bisa mengulangi perbuatannya sehingga harus dipindahkan ke tempat yang lain. Di sana dia bisa menemukan tempat, teman baru juga mungkin ada tempat khusus buat napi teroris," ujarnya.

Setidaknya, kata Jumadi, ada dua hal yang menjadi pertimbangan penting petugas Lapas kemudian memindahkan napi kasus teroris jaringan dari Abu Roban itu ke Lapas Kelas I Malang.

Diantaranya, sesuai dengan pengakuan Azmi, sejak awal pemindahan dari Rumah Tahanan Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat ke Lapas Bojonegoro sudah ada niatan untuk kabur.

"Celah sekecil apapun saya pengen kabur. Dan kalau ada kesempatan saya memang akan kabur," jelas Jumadi menirukan pernyataan Azmi usai diangkap kembali saat mencoba melarikan diri.

Meskipun sudah ada pernyataan terang-terangan dari Azmi bahwa akan kabur jika ada celah kelengah petugas, pihak Lapas, lanjut Jumadi, tidak bisa memberlakukan napi secara sewenang-wenang.

"Meskipun demikian kami harus tetap memberlakukannya secara manusiawi," jelasnya.

Alasan yang membuat Azmi napi yang tertangkap di Banyumas pada 30 Desember 2013 itu ingin kabur, sebab dia beranggapan bahwa tanah air kelahirannya bukan berada di Indonesia, melainkan di Irak. Azmi kepada petugas juga mengaku jika ada uang untuk pergi ke Irak dia rela meninggalkan anak dan istrinya.

"Pemahaman hidup dia (Azmi) ini sudah beda dengan orang lain. Doktrin terhadap otaknya sudah sangat kuat. Dia sampai rela meninggalkan anak dan istrinya. Katanya anak dan istrinya sudah ada Allah jika harus ditinggal," jelas Kalapas, Jumadi.

Maka, lanjut Jumadi, agar tidak terulang peristiwa yang ketiga kalinya pihaknya kemudian memindahkan Azmi ke Lapas Kelas I Malang. Karena selama dua tahun di dalam Lapas Kelas II A Bojonegoro Azmi juga terus mempelajari kelengahan petugas dan celah yang bisa digunakan untuk melarikan diri.

"Tidak mungkin dia mau kabur hanya direncanakan secara mendadak. Selama ini dia mencari kelengahan-kelengahan petugas dan belajar mencari kesempatan," pungkasnya.

Selama didalam tahanan, Jumadi juga memberlakukan pelaku sama dengan penghuni Lapas lainnya. Tidak ada perlakuan khusus bagi dia, maupun ruang yang terpisah dari napi lain. Selain itu, lanjut dia, perlakuan antarasesama napi juga tidak ada yang menyimpang tehadapnya.


"Tidak ada perlakuan sewenang-wenang terhadap dia (Azmi) baik dari petugas maupun sesama penghuni lapas," jelasnya.

Sekadar diketahui, Azmi Fuadi sekitar pukul 09.00 WIB kemarin, berhasil melompat dari pagar tembok gedung Lapas.

Petugas kemudian berhasil menangkap kembali pelaku setelah kabur sejauh kurang lebih 500 meter. Dia melompat dari tembok pagar yang berteralis besi setinggi kurang lebih empat meter. Selama dua tahun menghuni Lapas Bojonegoro pelaku sudah dua kali mencoba kabur dan selalu gagal.[beritajatim]

 
x