Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 September 2017 | 22:23 WIB

Sjamsul Nursalim Mangkir dari Panggilan KPK

Oleh : Indra Hendriana | Senin, 29 Mei 2017 | 19:41 WIB
Sjamsul Nursalim Mangkir dari Panggilan KPK
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Bos PT Gajah Tunggal Tbk, Sjamsul Nursalim mangkir alias tidak memenuhi panggilan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Senin (29/5).

Kemudian, istri Sjamsul yang bernama Itjih juga tidak memenuhi panggilan. Pasangan suami istri itu tidak penuhi panggilan KPK tanpa memberikan alasan.

Sedianya dua orang itu akan dimintai keterangan sebagai saksi untuk tersangka mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung (SAT) terkait kasus dugaan korupsi pemberian SKL BLBI Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI). Adapun BDNI sendiri adalah milik Sjamsul.

"Sampai sore ini kami belum dapat informasi kehadiran yang bersangkutan," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Senin (29/5/2017).

Dengan ketidakhadiran keduanya, lanjut dia, pihaknya akan menjadwalkan ulang. Febri meminta pasangan suami istri itu bisa koperatif. Keduanya saat ini tengah menetap di Singapura.

"Meskipun saksi kini berada di Singapura. Itikad baik saksi sangat dibutuhkan dalam kasus ini," kata Febri.

Febri mengatakan, dalam melakukan upaya pemanggilan pihaknya sudah melakukan kerjasama dengan lembaga CPIB (lembaga antikorupsi Singapura). Dengan begitu, Febri memastikan surat panggilan itu sudah sampai ke Sjamsul.

KPK sebelumnya sudah meminta Sjamsul pulang ke Indonesia untuk menjelaskan penerimaan SKL dari BPPN pada April 2004 silam. Sjamsul dan istrinya sudah beberapa tahun menetap di Singapura.

Sejauh ini KPK baru menetapkan Syafruddin menjadi tersangka penerbitan SKL BLBI kepada BDNI, yang dikendalikan Sjamsul. Syafruddin diduga merugikan negara hingga Rp3,7 triliun atas keputusannya mengeluarkan SKL untuk Sjamsul.

Menurut KPK, kewajiban Sjamsul yang mesti diserahkan ke BPPN sebesar Rp4,8 triliun. Namun Sjamsul baru membayarnya, lewat penyerahan Dipasena yang nilainya hanya Rp1,1 triliun. Dengan demikian, Sjamsul masih memiliki kewajiban Rp3,7 triliun.[jat]

Tags

 
Embed Widget

x