Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 September 2017 | 20:41 WIB

Polisi Tangkap Pria Penyebar Chat Palsu Kapolri

Oleh : Agus Irawan | Minggu, 28 Mei 2017 | 15:26 WIB
Polisi Tangkap Pria Penyebar Chat Palsu Kapolri
Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM,Jakarta - Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan, polisi siber telah berhasil menangkap penyebar chat palsu Kapolri Jenderal Tito Karnavian dengan Kadiv Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono.

Adapun pelaku diketahui merupakan seorang pria yang merupakan warga Jagakarsa, Jakarta Selatan dan berinisial HP.

Setyo menjelaskan, HP merupakan salah seorang admin yang mengoperasikan akun Instagram bernama muslim_cyber1.
Atas perbuatanya,HP menjadi tersangka penyebaran chat palsu.

" Jadi HP tersangka penyebar chat palsu, dan salah satu admin Instagram muslim_ cyber 1. Dalam akun itu, dia rutin memposting gambar-gambar dan kalimat-kalimat berbau SARA atau menimbukan kebencian," kata Setyo di kantornya, Jakarta Selatan, Minggu (28/5/2017).

Ia menjelaskan, HP ditangkap di kediamannya di Jalan Damai RT 09,RW 04,Cipedak,Jagakarsa,Jakarta Selatan pada Selasa (23/5/2017) sekitar pukul 05.00 WIB.

Tim Direktorat Siber Bareskrim Polri pun berhasil menyita sejumlah barang bukti atas dugaan tindak pidana yang dilakukan HP.

" Untuk barang bukti yang telah disita merupakan, satu unit ponsel merek Xiaomi, satu sim card XL, satu sim card Tri, fake chat atau chat palsu Kapolri dengan Kadiv Humas Polda beberapa waktu lalu serta postingan yang bermuatan SARA dengan melalui Instagram HP," tuturnya.

Atas perbuatannya, HP dijerat dengan pasal berlapis tentang dugaan pelanggaran Pasal 28 ayat 2 Juncto Pasal 45 a Undang-Undang ITE serta Pasal 4 huruf d angka 1 jubcto Pasal 16 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Ras dan Etnis.

" Tersangka bisa diancam hukuman 6 tahun dan denda paling banyak 1 Milyar rupiah, dengan Pasal ITE, tetapi jika UU Penghapusan Ras dapat diancam hukuman 5 tahun dan denda 500 juta," pungkasnya. [rym]

 
Embed Widget

x