Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 28 Juni 2017 | 10:32 WIB

Menakar Efektivitas Hentikan Kegaduhan Ala Jokowi

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 23 Mei 2017 | 18:44 WIB
Menakar Efektivitas Hentikan Kegaduhan Ala Jokowi
Presiden Joko Widodo Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (AFKUB) - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Presiden Joko Widodo telah dua kali dalam sepekan menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh agama. Pertemuan itu sebagai bentuk respons atas kegaduhan yang belakangan muncul sejak kasus Basuki Tjahaja Purnama mencuat. Apakah efektif cara Jokowi?

Dalam sepekan, Presiden Jokowi menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh agama. Pertemuan pertama digelar Selasa (16/5/2017) di Istana Merdeka, Jakarta. Sejumlah pimpinan lembaga keagamaan diundang ke Istana Kepresidenan. Pertemuan kedua, digelar pada Selasa (23/5/2017) ini. Bedanya, peserta pertemuan jauh lebih banyak dengan mengundang Asosiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (AFKUB) dan bertempat di Istana Bogor, Jawa Barat.

Dalam pertemuan kali ini, Jokowi kembali menegaskan soal pemisahan wilayah politik, hukum dan agama. Pernyataan tersebut terkait dengan kasus yang melilit Ahok dalam delapan bulan terakhir ini telah menyita perhatian khalayak. Menurut Jokowi, selama delapan bulan, Indonesia terjebak dalam isu pembingkaian sehingga menghabiskan energi bangsa.

Jokowi meminta tokoh agama dapat memberi pencerahan kepada masyarakat untuk dapat memilah mana urusan hukum, mana urusan politik dan mana urusan agama. "Berikan pemahaman kepada masyarakat yang mana wilayah politik, yang mana wilayah hukum, yang mana wilayah agama," cetus Jokowi.

Pernyataan Jokowi ini mengulang pernyataan sebelumnya tentang seruan agar agama dan politik dipisahkan. Pernyataan tersebut disampaikan saat meresmikan tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara pada 24 Maret 2017 lalu di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Gagasan Jokowi yang menyerukan pemisahan agama dan politik menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Sebagian kelompok menyoal pertentangan agama dan politik. Karena dalam kenyataannya, agama justru memandu dalam berpolitik. Tidak bisa entitas agama dihadap-hadapkan dengan entitas politik. Setidaknya demikian pendapat yang tidak setuju dengan seruan tersebut.

Langkah Jokowi yang mengumpulkan sejumlah tokoh agama selama sepekan memang secara formal mampu menumbuhkan persepsi yang sama di tengah kelompok agama. Upaya serupa juga pernah dilakukan Jokowi saat merespons polemik soal Ahok pada akhir tahun lalu. Kala itu, Jokowi mengundang sejumlah tokoh untuk meneguhkan semangat kebhinnekaan. Fakta lainnya, kegaduhan masih saja berlangsung.

Kegaduhan di tengah masyarakat akan lebih terasa jika melihat lalu lintas percakapan di media sosial yang masih saja muncul persoalan imbas politik Pilkada, persepsi adanya kriminalisasi terhadap ulama, serta kesan sikap represif dari pemerintah terhadap kalangan umat Islam.

Seruan Presiden agar tidak terjadi kegaduhan sebenarnya akan lebih efektif bila juga diserukan di internal pemerintahan. Bagaimanapun produksi kegaduhan di tengah publik juga tidak terlepas dari berbagai sikap dan kebijakan pemerintah dalam merespons isu yang muncul di tengah publik. Selagi pemerintah tidak bersikap netral berada di posisi tengah, maka sulit kegaduhan untuk dihentikan. [mdr]

 
x