Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 November 2017 | 01:07 WIB

Istana Presiden Harus Tegas

Mengakhiri Gesekan yang Memanas

Oleh : Ahluwalia | Rabu, 17 Mei 2017 | 20:48 WIB
Mengakhiri Gesekan yang Memanas
Seribu lilin pendukung Ahok - (Foto: Inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar gesekan antar kelompok yang memanas dalam beberapa bulan ini dihentikan. Jokowi bahkan meminta agar Panglima TNI dan Kapolri terjun langsung menindak pihak-pihak yang masih bertikai dan mengancam kebhinekaan, Pancasila, UUD 1945 dan juga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Jika dalam beberapa waktu terakhir ada gesekan, mulai saat ini saya minta hal-hal tersebut segera dihentikan," tegas Jokowi usai bertemu dengan tokoh lintas agama di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (16/5/2017).

Harus diakui, pro dan kontra seakan belum selesai setelah Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sudah divonis 2 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Buktinya, berbagai unjukrasa pendukung Ahok berlangsung, baik di Jakarta maupun sejumlah wilayah Indonesia.

Soliditas NKRI kini menghadapi batu ujian. Munculnya Gerakan Minahasa Merdeka di Provinsi Sulawesi Utara, yang disesalkan banyak pihak, menjadi sorotan masyarakat. Pengibaran bendera Minahasa Raya bisa dianggap sebagai simbol separatisme. Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo harus mencegah gerakan Minahasa Merdeka, karena hal itu bisa dianggap sebagai tindakan separatisme yang mengancam keutuhan NKRI.

Semula bentuk aksinya yang menonjol adalah aksi seribu lilin, dan kemudian berubah jadi gerakan Minahasa Merdeka di Sulut, sesuatu hal yang absurd dan emosional.

Namun, rentetan aksi dukungan untuk Ahok ini rentan mengundang reaksi balasan dan dinilai bisa berujung pada ketegangan sosial yang hampir pasti berdampak politik.

Para pendukung Ahok (Ahoker) dan jaringannya diharapkan menahan diri. Banyak pihak makin prihatin bahwa aksi dukungan terhadap Ahok yang divonis dua tahun penjara pada kasus penodaan agama, terus bergulir di sejumlah daerah. Hal itu hanya mengundang kubu yang kontra Ahok melakukan reaksi, resistensi dan sungguh tidak kondusif lagi bagi stabilitas.

Untuk mengendapkan dan mengakhiri gesekan politik pasca vonis Ahok, maka memadamkan bara api SARA (suku, agama, ras, antargolongan) menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat dan negara. Isu SARA bukan hanya membosankan dan sia-sia, namun juga menghabiskan energi, sumber daya dan waktu yang luar biasa.

Pengalaman membuktikan, meluasnya ekspresi kegelisahan mayoritas warga (civil society) akibat meluasnya isu SARA, sudah terlalu banyak menghabiskan sumber daya dan energi bangsa, yang hanya membuat bangsa kita terperangkap, terjebak ke dalam kemunduran, kedangkalan dan kepicikan.

Tidak boleh ada lagi intimidasi dan tebaran ketakutan di negeri ini. Semua pihak yang peduli, harus menahan diri untuk tidak memainkan isu SARA yang menjurus kepada separatisme. Inilah saatnya seluruh elemen bangsa dan kelompok-kelompok kepentingan (interest groups) menghentikan gerakan politik yang bisa memecah belah bangsa.

Oleh sebab itu, seluruh anak bangsa sebaiknya menahan diri menyikapi situasi terkini dengan tidak lagi menggelar aksi massa. Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, dikhawatirkan rentan memicu sesuatu hal yang justru semakin membelah bangsa dan merugikan rakyat Indonesia.

Presiden Jokowi sudah mendesak agar para elite pemerintahan, partai politik, organisasi kemasyarakatan, tokoh bangsa, tokoh agama, dan tokoh pemuda hendaknya segera menghentikan sikap saling bermusuhan, separatisme dan sikap saling berhadapan.

Indonesia bukan hanya Ahok dan Ahokisme yang mencuatkan separatisme bukanlah segalanya sebab itu pertanda kemunduran dan kedangkalan. Para analis mengingatkan, istana presiden harus tegas dalam mengakhiri gesekan yang memanas. Jalan di hadapan untuk mengakhiri polarisasi sosial dan bersatu kembali selalu terbuka. Membangun kembali keadilan sosial dan kebersamaan, bangsa kita pasti bisa. (berbagai sumber)

Komentar

 
x