Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 22 Agustus 2017 | 17:59 WIB

Gus Ipul: Saya Tak Pantas Dapat Gelar Kiai

Oleh : - | Rabu, 17 Mei 2017 | 16:28 WIB
Gus Ipul: Saya Tak Pantas Dapat Gelar Kiai
Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Surabaya - Jika seseorang senang dihormati dengan embel-embel gelar atau panggilan Kiai atau Pak Haji, tidak demikian halnya dengan Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Beberapa kali menghadiri acara pengajian atau keagamaan lainnya, Gus Ipul selalu mendapat 'gelar istimewa' yaitu kiai haji atau disingkat KH. Gelar mentereng yang biasa disematkan kepada para tokoh agama di Indonesia itu justru tidak membuat mantan Menteri Pembangunan Tertinggal ini senang, tapi justru menolaknya.

Saat menghadiri acara peresmian Masjid At-Tauhid di Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien di Desa Tanen, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung akhir pekan lalu di backdrops panggung tertulis besar nama Drs KH Saifullah Yusuf.

Ternyata di luar dugaan, Gus Ipul enggan menyandang gelar kehormatan yang biasanya diberikan kepada para ulama atau tokoh laki-laki yang dihormati. "Lain kali, tidak usah diberi gelar kiai haji. Abot gowone (berat bawanya, red)," katanya.

Menurut dia, sering mendapat gelar kiai haji dari orang-orang yang mengundangnya. Bahkan tidak hanya satu atau dua kali saja, tapi intensitasnya sangat sering. Bisa disebut acap kali menghadiri acara keagamaan selalu mendapat gelar kiai haji.

Meskipun sebenarnya, lanjut mantan Ketua Umum PP GP Ansor ini, gelar kiai haji bisa saja disematkan kepada dirinya karena dia adalah cucu dari dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Pengasuh Ponpes Mambaul Ma'arif, Denanyar, Jombang, KH Bisri Syansuri.

"Kalau saya diminta menjadi pengasuh pondok pesantren, saya tidak mampu. Berat tugasnya menjadi seorang pengasuh pondok pesantren. Makanya saya tidak pantas menyandang gelar kiai," paparnya.

Jika saya seorang kiai, kata Gus Ipul, semua yang tidak boleh akan saya bolehkan. Semua yang dilarang, akan saya lakukan. "Makanya mending saya tidak jadi kiai. Rusak nanti umatnya," kelakarnya yang disambut tawa para hadirin.

Satu yang cukup berat bagi Gus Ipul, setiap datang pasti diberikan waktu untuk memberikan mauidhoh hasanah atau ceramah inti setiap ada acara keagamaan.

"Saya ini bukan kiai, tapi setiap acara selalu diberikan waktu untuk mauidhoh hasanah. Tapi bagaimanapun sebagai sesama muslim diwajibkan selalu mengingatkan. Makanya saya hanya mengingatkan kepada umat untuk tetap waspada di akhir zaman seperti sekarang ini. Banyak godaannya," pungkasnya.[beritajatim]

 
x