Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 15 Desember 2017 | 03:54 WIB

Fahd Bakal Bongkar Keterlibatan Priyo

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 16 Mei 2017 | 18:00 WIB
Fahd Bakal Bongkar Keterlibatan Priyo
Fahd A Rafiq - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Tersangka kasus dugaan korupsi dalam proyek pengadaan Alquran dan Laboratorium Madrasah pada Kementerian Agama Fahd El Fouz atau Fahd A Rafiq memastikan Priyo Budi Santoso terlibat kasus ini.

Bahkan Fahd siap membongkar dugaan keterlibatan mantan Wakil Ketua DPR dalam persidangan nanti. Menurut Fahd, Politikus Golkar itu ikut menikmati uang hasil korupi proyek Alquran.

"Pasti (saya bongkar). Kita tunggu di persidangan," kata Fadh usai menjalani pemeriksaan di KPK, Jakarta, Selasa (16/5/2017).

Namun demikian, dia belum mau merinci dugaan keterlibatan Priyo dalam kasus ini. Hanya saja, tegas Fahd, semuanya akan dibongkar dalam persidangan nanti.

"Tunggu di persidangan karena itu masih rahasia dalam penyidikan," ujar Fahd.

Priyo sebelumnya pernah diperiksa untuk Fahd. Namun, Priyo berkeras bila dirinya tidak terlibat dalam kasus tersebut.

Nama Priyo Budi Santoso memang disebut ikut terlibat dalam kasus korupsi proyek Alquran. Namanya sebelumnya muncul dalam rekaman penyadapan di sidang Zulkarnaen Djabar dan putranya, Dendy Prasetya, beberapa waktu lalu. Keduanya saat ini sudah menjadi terpidana dan tengah menjalani masa hukuman.

Mulanya, terdengar suara Zulkarnaen yang tengah membicarakan anggaran Kemenag dengan Ketua Generasi Muda Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (Gema MKGR). Di tengah pembicaraan itu, Fahd tiba-tiba menyela dengan sebuah pertanyaan.

"Yang punya PBS aman ya?" kata suara Fahd.

Kemudian dijawab oleh Zulkarnaen, "Aman, kita kan global controller," katanya.

Selanjutnya, Fahd mengatakan, ada perubahan untuk Bengkulu Utara. Lalu, suara Zulkarnaen mengatakan sejauh ini tetap aman. "Tidak ada, Nando saya telepon, dia katakan sejauh ini aman," begitu bunyi rekaman itu.

Sadapan pembicaraan antara Fahd dan Zulkarnaen ini pun memunculkan nama Tamsil Linrung. "Tamsil Linrung katanya ngeluarin data, coba saya carikan datanya," kata Fahd kepada Zulkarnaen dalam rekaman.

Zulkarnaen kemudian menjawab, "Jangan sampai kayak kasus Wa Ode lagi. Kasih tahu kawan itu luar biasa perjuangan ini," katanya.

Menurut Zulkarnaen, yang dimaksud dengan PBS ini adalah Priyo Budi Santoso. Nama PBS juga muncul dalam surat dakwaan Zulkarnaen dan Dendy yang dibacakan dalam persidangan perdana kasus dugaan korupsi proyek Kemenag beberapa waktu lalu.

Dalam surat dakwaan, tim jaksa KPK menuliskan PBS sebagai singkatan dari Priyo Budi Santoso.

Hal ini berdasarkan catatan tangan Fahd yang ditemukan penyidik KPK. Dalam catatan tersebut, PBS disebut mendapatkan jatah fee dari proyek pengadaan laboratorium komputer tahun anggaran 2011 dan pengadaan Alquran 2011 di Kemenag.

Fee dari proyek pengadaan laboratorium komputer 2011 yang nilainya Rp31,2 miliar tersebut mengalir ke enam pihak, yakni ke Senayan (Zulkarnaen) sebesar 6 persen, ke Vasco Ruseimy atau Syamsu sebesar 2 persen, ke kantor sebesar 0,5 persen, ke PBS (Priyo Budi Santoso) sebesar 1 persen, ke Fahd sendiri menerima senilai 3,25 persen, dan kepada Dendy sebesar 2,25 persen.

Dari pengadaan Alquran 2011 senilai Rp22 miliar, kembali disusun pembagian feeyang rinciannya sebesar 6,5 persen ke Senayan (Zulkarnaen), 3 persen mengalir ke Vasco/Syamsu, sebesar 3,5 persen ke PBS, sebesar 5 persen untuk Fahd, 4 persen untuk Dendy, dan 1 persen untuk kantor.

Fahd A. Rafiq resmi ditetapkan tersangka lantaran diduga melakukan korupsi pada dua proyek Kemenag. Dua proyek di Kemenag tersebut yakni, proyek pengadaan Alquran dan proyek pengadaan alat laboratorium Madrasah Tsanawiyah tahun anggaran 2011-2012.

Fahd diduga menerima uang hingga Rp3,4 miliar dari total keseluruhan dua proyek tersebut sebesar Rp14,8 miliar. Fahd sendiri merupakan tersangka ketiga dalam kasus korupsi ini setelah mantan anggota Komisi VIII DPR, Zulkarnaen Djabar dan putranya, Dendy Prasetya dijebloskan ke penjara terlebih dahulu.

Atas perbuatannya, FEF disangkakan melanggar Pasal 12 huruf b subsidair Pasal 5 ayat (2) Jo ayat (1) huruf b dan lebih subsidair Pasal 11 Undang-Undang Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 dn Pasal 65 KUHP.[jat]

Komentar

 
x