Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 25 September 2017 | 15:11 WIB

Ekses Politik Ahok Terhadap PDIP

Oleh : Ahluwalia | Selasa, 9 Mei 2017 | 18:49 WIB
Ekses Politik Ahok Terhadap PDIP
(Foto: Inilahcom/Pool/Kurniawan Mas'ud)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta -- Ekses politik kasus Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berbuntut panas dan panjang. Setidaknya, secara politik PDIP kena getah buruk dari ekses Ahokisme itu.

Selasa ini, Majelis Hakim memvonis terdakwa penodaan agama Ahok dua tahun penjara. Hakim menilai Ahok terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan penodaan agama, berkaitan dengan surah Al Maidah. Dari sisi hukum, ekses Ahok itu, hanya soal waktu, bakal mengendap dalam masa dekat. Namun ekses politiknya diprediksi akan menjalar panjang sampai pemilu dan pilpres 2019. Mengapa dan ada apa?

Ekses politik Ahok-Djarot yang kalah telak pada Pilkada DKI putaran dua, 19 April silam, terus bergulir. Selisih angkanya nyaris 16%. Anies-Sandi meraup 57,96%. Sedangkan paslon petahana cuma mengantongi suara 42,04%.

Dalam deretan kubu Ahok ini, secara sengaja atau tidak, sadar atau tidak, banyak pihak yang menjadi korban politik primordialisme bernada SARA (suku, agama, ras,antargolongan). Mereka bisa individu, bisa juga institusi, lembaga atau parpol. Pastinya, secara politik, kelompok parpol pengusung dan pendukung adalah para korban. Mereka adalah PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura, PPP, dan PKB, yang terancam digilas isu primordialisme itu.

Ekses politik dari kasus Ahok telah menerjang PDIP secara nyata. Indikasinya, PDIP selaku pemenang Pemilu dengan suara sekitar 19% itu harus menerima kenyataan pahit. Dari Pilkada di 101 daerah (7 provinsi, 76 kabupatan, dan 18 kota) serentak 15 Februari 2017 silam, banyak, jagoan politiknya yang tumbang.

Kekalahan telak partai Moncong Putih itu terjadi di Pilgub Bangka Belitung, Banten, Gorontalo, dan Jakarta. Di ajang pemilihan walikota, PDIP keok di Payakumbuh, Pekanbaru, Tasikmalaya, Salatiga, Kendari, Kupang, Ambon, dan Kota Jogja selisih suara sangt tipis. Begitu juga saat bertarung di Pilbub. Calon-calon dari PDIP terkapar di Tapanuli Tengah, Kampar, Muaro Jambi, Pringsewu, Mesuji, Bekasi, Cilacap, Hulu Sungai Utara, Barito Kuala, Kep Sangihe, Banggai Kepulauan, Kolaka Utara, Buton, Lembata, Maluku Tenggara Barat, Halmahera Tengah, Sarmi, Kep Yapen, dan Jayapura. Secara politik, PDIP bakal sulit move on karena citranya yang lekat dengan Ahokisme.

Para analis melihat, PDIP bakal terus sulit move on selama citranya negatif di mata rakyat yang menganggap PDIP adalah partai Ahokisme yang menista agama, sarang koruptor, tidak berpihak kepada wong cilik, terlalu mengutamakan taipan/pengusaha, sarang bekas komunis/PKI dan seterusnya.

"Dengan tudingan-tudingan miring semacam itu, secara politik PDIP bakal kelelahan ke depan sebab sepak terjang dan tutur kata serta tindakannya telanjur diidentikkan dengan Ahokisme, sehingga sulit move on," kata Muh Nabil, peneliti CSRC UIN Jakarta yang studi pasca sarjana di STF Driyarkara.

Maka PDIP harus melakukan Revolusi Mental, komit pada Nawa Cita dan Trisakti secara nyata, bukan cuma basa-basi politik. Mampukah dan maukah? Hanya Megawati Soekarnoputri dan PDIP yang bisa menjawabnya (berbagai sumber)

 
Embed Widget

x