Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 25 September 2017 | 15:08 WIB

Pasemon Karangan Bunga Hampa Makna

Oleh : R Ferdian Andi R | Kamis, 4 Mei 2017 | 18:56 WIB
Pasemon Karangan Bunga Hampa Makna
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Fenomena karangan bunga yang dimulai sesaat setelah kekalahan Basuki Tjahaja Purnama terus berlanjut hingga kini. Sejumlah lembaga kini juga mendapat kiriman karangan bunga. Karangan bunga pada titik ini kian tak memiliki makna, selain hanya memberi untung bagi penjual bunga.

Fenomena karangan bunga yang dimulai sesaat kekalahan Ahok dalam kontestasi Pilkada terus berlanjut. Bedanya kini, yang menerima karangan bunga tak lagi menyasar Ahok. Namun bergeser ke tempat lainnya seperti Istana Kepresidenan untuk Jokowi, Mabes Polri, serta Kantor PB Nahdlatul Ulama (NU).

Tidak sekadar mengirim karangan bunga. Terdapat pesan yang dituliskan dari karangan bunga tersebut. Isinya tidak jauh beda dari narasi yang disuarakan di berbagai saluran media seperti di media sosial seperti soal NKRI, Kebhinnekaan dan sejenisnya.

Namun karangan bunga yang ditujukan kepada sejumlah Pimpinan DPR, isi pesannya berbeda dari yang lainnya. Nada protes dan kecewa terhadap sejumlah pimpinan DPR seperti Setya Novanto, Fahri Hamzah, dan Fadli Zon.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai fenomena karangan bunga hanyalah kelanjutan dari perang sosial media berupa meme. Ia menilai karangan bunga merupakan ekspresi dari kekalahan dalam kontestasi Pilkada DKI lalu. "Ini ekor perang sosmed, karena ada yang kalah, mereka melakukan gerakan," sebut Fahri di gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Kamis (4/5/2017).

Fahri tak mempersoalkan dirinya menjadi obyek sindiran dari karangan bunga yang dikirim kepadanya. Ia justru bersyukur bila perang berupa karangan bunga ini tetap berlanjut karena akan menguntungkan penjual karangan bunga. "Ini efek lanjutan perang sosmed Pilkada DKI Jakarta," tegas Fahri.

Awal fenomena kiriman karangan bunga yang dimulai pasca kekalahan Ahok di Pilkada DKI Jakarta dapat dimaknai sebagai bentuk empati atas kekalahan yang diterima Ahok. Namun seiring waktu berjalan, fenomena karangan bunga pada akhirnya hampa makna.

Di titik yang lain, pengiriman karangan bunga yang ditujukan kepada kelompok atau instansi tertentu yang berisi apresiasi, sanjungan dan dorongan justru membuat dikotomi antarkelompok. Kesan yang muncul, instansi atau organisasi yang tidak mendapat kiriman karangan bunga merupakan kelas yang berbeda dari kelompok yang menerima karangan bunga.

Jika fenomena karangan bunga masih saja terus berlanjut, sama saja ini menyuburkan dikotomi kelompok terlebih dengan narasi kita dan mereka yang belakangan makin menguat di tengah-tengah masyarakat. Pemerintah semestinya memiliki andil untuk menyatukan berbagai elemen bangsa ini agar tak lagi terpolarisasi dalam dua kelompok yang saling berhadap-hadapan.

Narasi kebhinnekaan, toleransi, intoleran, radikal saatnya dihentikan dan diganti dengan mendorong dialog antarelemen. Toh nyatanya, berbagai narasi itu telah masuk dalam kubangan politik praktis yang bertendensi untuk mengangkat satu kelompok dan menjatuhkan kelompok yang berbeda pandangan. [mdr]

 
Embed Widget

x