Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 30 Mei 2017 | 01:48 WIB

Kasus BLBI

Eks Bos BII Akui Dicecar Aset Sjamsul Nursalim

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 3 Mei 2017 | 23:19 WIB
Eks Bos BII Akui Dicecar Aset Sjamsul Nursalim
Mantan Direktur BII Dira Kurniawan Mochtar
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Direktur Bank Internasional Indonesia (BII) Dira Kurniawan Mochtar rampung menjalani pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pemberian SKL BLBI untuk Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) milik Sjamsul Nursalim.

Dira diperiksa dalam kapasitasnya sebagai mantan Kepala Loan Work Out Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Ia diperiksa untuk tersangka mantan Kepala BPPN Syafuddin Arsyan Tumenggung.

Kepada awak media, dia mengakui bahwa penyidik mencecar terkait tugasnya dalam penagihan kewajiban Sjamsul Nursalim, yang merupakan salah satu obligor, penerima Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) saat krisis melanda Indonesia 1997-1998.

"Saya menceritakan pekerjaan saya, sewaktu menangani Dipasena yang dianggap sebagai salah satu kurang bayarnya pihak Sjamsul Nursalim ke pemerintah," kata Dira usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu (3/5/2017) malam.

Adapun Dipasena atau PT Dipasena Citra Darmaja adalah perusahaam milik Sjamsul. Perusahaan ini adalah salah satu dari tiga perusahaan yang diserahkan Sjamsul Nursalim sebagai bagian dari Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham (PKPS) BDNI.

Dipasena merupakan perusahaan tambak udang terbesar di Asia Tenggara kala itu. Perusahaan itu diserahkan kepada BPPN untuk melunasi utang senilai Rp 4,8 triliun.

Namun, setelah dilakukan verifikasi ternyata aset Dipasena hanya senilai Rp 1,1 triliun. Dengan demikian, Sjamsul Nursalim masih memiliki kewajiban Rp3,7 triliun. Nah ini yang tengah diusut oleh KPK. Anehnya BPPN yang dipimpin Syafruddin tetap memberikan SKL BLBI terhadap BDNI.

Namun begitu, Dira mengklaim tak tahu persoalan itu. Dira mengaku tugasnya hanya mengurusi masalah aset Dipasena, yang masuk dalam kepemilikan Sjamsul Nursalim. Namun, selama dirinya bekerja di BPPN, dari 2001 sampai 2002, pemilik PT Gajah Tunggal Tbk itu tak kunjung menyelesaikan kewajibannya secara keseluruhan.

"Kita tagihkan secara keseluruhan, tapi dari pihak Sjamsul Nursalim tidak ada itikad baik untuk menyelesaikan," tutur Dira.

Dira tak mau berkomentar lebih jauh mengenai pemberian SKL kepada taipain yang kini tinggal di Singapura itu. Dia juga tak mau menjawab soal dugaan penerimaan imbalan Syafruddin atas SKL yang dirinya terbitkan ke Sjamsul Nursalim.

"Saya nggal tau. Saya di BPPN sampai 2002," kata Dira.

Seperti diketahui, KPK menetapkan Syafruddin Arsyad Tumenggung sebagai tersangka penerbitan SKL BLBI kepada Sjamsul Nursalim, selaku pemegang saham BDNI. Tindakan Syafruddin itu diduga merugikan keuangan negara hingga Rp3,7 triliun.

Syafruddin disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. [ton]

 
x