Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 20 November 2017 | 00:57 WIB

Kasus BLBI

KPK Usut Eks Bos BII Soal Tambak Sjamsul Nursalim

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 3 Mei 2017 | 22:22 WIB
KPK Usut Eks Bos BII Soal Tambak Sjamsul Nursalim
Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengatakan, pemeriksaan pada eks Direktur Bank Internasional Indonesia (BII) Tbk, Dira Kurniawan Mochtar adalah berkaitan dengan aset tambak milik Sjamsul Nursalim.

Dira dimintai keterangan sebagai saksi dalam penyidikan kasus dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) milik Sjamsul Nursalim dengan tersangka bekas Kepala BPPN Syafruddin Arsyad Tumenggung.

Sebab, lanjut Febri, Dira saat itu merupakan pejabat BPPN yang mengurusi pelunasan utang Sjamsul. Untuk itu KPK merasa perlu meminta keterangan terhadap Dira.

"Yang bersangkutan diperiksa bukan sebagai mantan Direktur BII, tapi diperiksa sebagai mantan pejabat struktural di BPPN yang memang ditugaskan untuk mengurusi BDNI," kata Febri di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu (3/5/2017).

Febri menerangkan, KPK mengonfirmasi Dira mengenai perusahaan tambak milik Sjamsul Nursalim. Diketahui, salah satu aset yang digunakan Sjamsul untuk melunasi utangnya, yakni hak tagih BDNI kepada para penambak yang bernaung dalam perusahaan Dipasena miliknya.

Dari hak tagih sebesar Rp 4,8 triliun, hanya sebesar Rp 1,1 triliun yang didapatkan. Dengan demikian, Sjamsul seharusnya masih memiliki kewajiban Rp 3,7 triliun.

Kendati begitu, Kepala BPPN yang saat itu dijabat Syafruddin menerbitkan SKL kepada Sjamsul. Syafruddin telah ditetapkan KPK sebagai tersangka terkait hal tersebut.

"Salah satunya dengan pengurusan tambak, yang kita dalamin. Karena di kasus BLBI ini kita mendalami relasi hak tagih petambak itu dengan obligor BLBI dan penerima SKL yang dilakukan tersangka (Syafruddin Arsjad Temenggung)," kata Febri.

Seperti diketahui, KPK menetapkan Syafruddin Arsyad Tumenggung sebagai tersangka penerbitan SKL BLBI kepada Sjamsul Nursalim, selaku pemegang saham BDNI. Tindakan Syafruddin itu diduga merugikan keuangan negara hingga Rp3,7 triliun.

Syafruddin disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. [ton]

Tags

Komentar

 
x