Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 20 Oktober 2017 | 17:25 WIB

Hari Kartini

Kisah Perempuan Tua Pemecah Batu di Wilis

Oleh : - | Jumat, 21 April 2017 | 11:46 WIB
Kisah Perempuan Tua Pemecah Batu di Wilis
(Foto: beritajatim)
facebook twitter

INILAHCOM, Kediri - Kemiskinan dan sempitnya lapangan kerja membuat sebagian besar kaum perempuan mulai ibu-ibu hingga lansia di lereng Gunung Wilis wilayah Kabupaten Kediri menjadi pemecah batu. Demi uang Rp 1.500 per kaleng batu, mereka rela berpanas-panasan dan mengerahkan seluruh tenaga untuk memecahkan batu.

Menjadi pemecah batu memang bukan pekerjaan yang lazim untuk kaum perempuan, tetapi bagi Misini (65) pekerjaan ini sudah menopang perekonomian keluarganya sejak anak-anaknya masih kecil. Hingga usianya yang sudah lanjut ini, perempuan asal Desa Surat, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri terus bergulat dengan palu dan kerasnya batu untuk dihancurkan.

Dibantu Parji (70) suaminya, Jumat (21/4/2017) ini Misini hanya mampu memecahkan dua kaleng batu saja. Ya, selain karena teriknya sengatan matahari dan harus berbagi waktu untuk mencari makan hewan ternak, akhir-akhir ini pengepul batu jarang datang untuk mengambil.

"Beberapa bulan terakhir pengepul batu jarang yang datang untuk mengambil. Sebab, sekarang ini jarang ada pembangunan," kata Misini sambil memukuli batu memakai palunya.

Proyek pembangunan memang sedang sepi. Sehingga permintaan batu sebagai material bangunan sangat rendah. Padahal kata Misini, dalam kondisi pemesanan normal, hasil kerja memecah batu dalam seminggu hanya dihargai Rp 120 ribu saja.

Di Desa Surat, tepatnya di Dusun Jajar ini ada kurang lebih 50 orang keluarga yang menyandarkan hidupnya dari pekerjaan sebagai pemecah batu. Pekerjaan kasar ini umumnya ditekuni oleh kaum perempuan.

Perempuan tua lainnya yang masih setiap menjadi pemecah batu adalah Mini. Wanita berusia 62 tahun ini sudah berjibaku menghancurkan batu sejak 1998 silam.

Tidak ada pekerjaan lain bagi Mini, karena tak punya sawah ladang yang bisa ditanami padu maupun jagung. Sementara suaminya sudah tidak mampu untuk bekerja lagi.

"Tidak ada pekerjaan lain mas selain tutuk watu (pecah batu). Sawah tidak punya, ladang juga tidak. Yang bisa kami kerjakan ya ini," aku Mini.

Secara geografis Desa Surat, khususnya Dusun Selorejo berada di perbukitan. Permukiman warga terletak di bawah-bawah bukit yang tinggi dan berbatu. Sementara di dekat rumah mereka mengalir sungai. Dari sungai inilah, warga mengambil batu untuk dijual menjadi pecahan-pecahan kecil.

Pekerjaan kasar ini tidak mudah dilakoni oleh kaum perempuan seperti Mini. Tak jarang, dia mengalami kesulitan dan terluka akibat pukulan palu meleset dan menyasar anggota badannya.

"Jari tangan ini baru saja sembuh mas. Dulu remuk karena terkena pulukan. Saya pernah operasi dan lama istirahat tidak bisa bekerja," ujar Mini.

Pada momentum peringatan Hari Kartini ini, kisah para kaum perempuan pemecah batu di Lereng Gunung Wilis ini sudah semestinya menjadi inspirasi. Banyak perempuan tangguh yang harus bekerja keras, mengambil resiko pekerjaan kaum pria demi bertahan hidup bersama keluarganya. [beritajatim]

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x