Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 23 Mei 2017 | 00:26 WIB

Pilkada Sulsel, Nurdin Menantang Cermin (2)

Oleh : Simon Ismail Pranoto | Senin, 20 Maret 2017 | 10:12 WIB
Pilkada Sulsel, Nurdin Menantang Cermin (2)
Nurdin Halid - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - La Tinro La Tunrung, adalah hasil kerja Gerindra di Sulsel yang mengincar muda-mudi Sulsel, khususnya di area yang tengah diusung menjadi provinsi Luwu Raya. Usulan provinsi Luwu Raya, mencakup 6 area, yaitu Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur, Kota Palopo, Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara.

Belakangan, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto menarik mundur La Tinro La Tunrung dari peta Pilkada Sulsel. Belum diketahui alasan penarikan mundur tiba-tiba ini. Namun pola yang sama juga sedang berlangsung pada Nasdem di Sulsel yang menarik kandidat lokal Sulsel lalu menggantinya dengan mengusung kandidat yang diusung DPP Nasdem (Pusat) ke Pilkada Sulsel, yakni Akbar Faisal.

Mundurnya La Tinro La Tunrung, tidak serta merta menghilangkan dukungan muda-mudi yang sudah terbentuk. Sepertinya, inilah siasat utama Prabowo ketika menarik mundur La Tinro dari Pilkada Sulsel. Prestasi La Tinro di Enrekang yang menghasilkan basis massa muda-mudi di kawasan Luwu Raya, seketika menjadi massa tak bertuan. Massa tak bertuan ini yang mungkin tengah diperdagangkan Prabowo kepada calon pembeli.

Tak lama La Tinro dipaksa mundur, lalu mencuat nama Abdul Aziz Kahar Muzzakar, salah satu dari 14 anak kandung Abdul Kahar Muzzakar, pimpinan pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan setengah abad lalu.

Muncul dugaan, Gerindra dan Golkar tengah mengincar basis massa tak bertuan bekas pendukung La Tinro yang dipaksa mundur. Sebab, langkah janggal Golkar Sulsel mengusung Si Tidak Populer Nurdin Halid, dilanjutkan dengan langkah nyeleneh Golkar mengawinkan Nurdin Halid dengan Abdul Aziz Kahar Muzzakar.

Tak luput juga, Golkar memusatkan perhatiannya merebut dukungan dari 6 area di seluruh Luwu Raya dengan pasangan Nurdin Halid Abdul Aziz Kahar Muzzakar, yang semula jadi area incaran Gerindra Sulsel melalui La Tinro. Landasan ini yang memunculkan spekulasi kalau sudah terjadi deal tingkat tinggi antara Golkar (Setya Novanto) dan Gerindra (Prabowo Subianto) di Pilkada Sulsel. Kabar yang mengatakan kalau Gerindra tengah mengincar Ichsan Yasin Limpo, sepertinya hanya suatu strategi dari duet Golkar dan Gerindra memastikan apakah Ichsan Yasin Limpo akan tetap maju di Pilkada Sulsel 2018, bukan untuk memberi dukungan nyata.

Danny Pomanto adalah Walikota Makassar yang sedang menjabat dan termasuk disukai masyarakat muda Sulsel. Dikenal sebagai kader dari Ilham Arief Sirajudin yang menjabat Walikota Makassar sebelumnya. Ilham Arief Sirajuddin dikenal sebagai pendukung terdepan Jusuf Kalla ketika masih proses kompetisi menjadi Calon Wakil Presiden pendamping Joko Widodo.

Kabarnya, dibukanya kasus korupsi PDAM dengan tersangka Ilham Arief Sirajuddin oleh Ketua KPK Abraham Samad, adalah bagian dari strategi Abraham Samad yang bersaing dengan Jusuf Kalla mengincar posisi cawapres Jokowi.

Sejak Ilham Arief Sirajuddin mendekam di hotel prodeo, nama Danny Pomanto seolah diblokir dari dunia politik. Senior-senior politik Sulsel menekan Danny Pomanto agar tidak maju di Pilkada Sulsel 2018. Kesuksesan Danny Pomanto mengusung Smart City Makassar dengan implementasi yang jauh lebih maju dari Smart City di DKI, diduga menjadi kekhawatiran para senior politik Sulsel. Apalagi, Danny Pomanto berkat program Smart City Makassar itu, sukses mendapat apresiasi khusus dari muda-mudi Makassar sebagai kota yang menguasai kurang lebih 20% suara Pilkada Sulsel.

Hingga saat ini, Danny Pomanto enggan menjawab soal partisipasinya di Pilkada Sulsel 2018. Boleh jadi, tekanan dari senior-senior politik Sulsel kepadanya benar. Sebab, dengan segudang prestasinya, tidak ada alasan rasional yang membuat Danny Pomanto tidak gamblang akan maju di Pilkada Sulsel 2018. Diperkirakan, Danny Pomanto akan menjadi Kuda Hitam di Pilkada Sulsel 2018.

Jadi sejauh ini, ada 6 nama yang berpotensi maju Pilkada Sulsel 2018, yakni :

1. Burhanuddin Andi
a. Parpol : Belum
b. Massa : 24 tim pemenangan dan relawan di 24 kabupaten

2. Agus Numang
a. Parpol : Sempat dijagokan seluruh parpol Islam di Sulsel
b. Massa : Blok Islam Modern Sulsel

3. Ichsan Yasin Limpo :
a. Parpol : Sudah didukung Hanura dan PAN, dan sempat diincar Gerindra
b. Massa : Belum terlihat

4. Nurdin Abdullah :
a. Parpol : Sudah didukung PDIP dan kemungkinan menyusul, Demokrat.
b. Massa : Sahabat Nurdin Abdullah

5. Nurdin Halid (dan Abdul Aziz Kahar Muzzakar) :
a. Parpol : Sudah didukung Golkar dan kemungkinan Gerindra.
b. Massa : Voters Golkar dan Blok Islam Tradisional Luwu Raya

6. Danny Pomanto :
a. Parpol : Belum terlihat
b. Massa : Masyarakat muda Makassar (20% voters Pilkada Sulsel)

Pertanyaan menariknya, benarkah Golkar (dan Gerindra) akan mengusung Nurdin Halid dan Abdul Aziz Kahar Muzzakar? Ataukah hasil akhirnya akan menjadi : Burhanuddin Andi dan Abdul Aziz Kahar Muzzakar?

Sebab, karakteristik voters yang diincar Golkar dengan menggaet Abdul Aziz Kahar Muzzakar adalah masyarakat Islam tradisional di kawasan Luwu Raya, yang semula menjadi incaran Gerindra melalui La Tinro La Tunrung. Golkar tidak mencari pemilih baru dari segmen pemilih yang memilih berdasarkan Logika, melainkan mencari di segmen pemilih yang memilih berdasarkan Politik dan Kultural.

Dengan menggaet Abdul Aziz Kahar Muzzakar, suara pemilih Kultural dari kawasan Luwu Raya bisa menambah 10 15% suara dari perkiraan suara Golkar sebanyak 25% di Sulsel 2018. Golkar mengusung Nurdin Halid atau bukan, tidak akan membuat banyak perubahan di perolehan suara.

Lain cerita jika Golkar mengusung Burhanuddin Andi dan Abdul Aziz Kahar Muzzakar. Burhanuddin Andi yang telah membangun 24 tim pemenangan dan relawan di seluruh kabupaten Sulsel, artinya akan menambah kantung suara dari daerah yang belum dikuasai Golkar dan Abdul Aziz Kahar Muzzakar (Luwu Raya).

Jika Golkar akhirnya mengusung duet Burhanuddin Andi dan Abdul Aziz Kahar Muzzakar, maka ini akan menarik. Kombinasi mantan Kapolda dan garis keturunan Pemberontak DI/TII memimpin Sulsel.

Namun akan lebih menarik lagi jika Golkar berhasil membeli suara yang dimiliki Burhanuddin Andi, sehingga tetap pada kandidat semula, yakni Nurdin Halid dan Abdul Aziz Kahar Muzzakar. Jika ini terjadi, maka terbuka kemungkinan Pilkada Sulsel 2018 berakhir dengan kompetisi antara : Nurdin Halid Abdul Aziz Kahar Muzzakar versus Nurdin Abdullah Ichsan Yasin Limpo / Danny Pomanto.

Pertarungan Nurdin melawan Nurdin akan sangat menarik jika benar terjadi. Golkar yang semula ingin mengawini Nurdin Abdullah agar melengkapi karakter kerakyatan yang tidak dimiliki Golkar sebagai simbol kekuasaan, namun gagal karena dipinang PDIP dan kemungkinan Demokrat, lalu memilih mencari cermin untuk mengambil bayangan Nurdin yang gagal ia pinang.

Nurdin Halid, secara makna berarti Cahaya Agama (Nur Din) yang Abadi (Halid). Nurdin Abdullah, secara makna berarti Cahaya Agama (Nur Din) dari Hamba Allah (Abdullah).

Nurdin Halid (NH) alias Nurdin Abadi (NA) melawan Nurdin Abdullah (NA) alias Nurdin Hamba (NH).

Seolah Nurdin menantang Cermin dan bayangannya sendiri di Pilkada Sulsel. [habis/rok]

 
Embed Widget

x