Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 25 Juni 2017 | 03:56 WIB

Pilkada Sulsel, Nurdin Menantang Cermin (1)

Oleh : Simon Ismail Pranoto | Senin, 20 Maret 2017 | 10:10 WIB
Pilkada Sulsel, Nurdin Menantang Cermin (1)
Nurdin Halid - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pilkada Sulawesi Selatan (Sulsel) 2018, sudah dimulai. Partai Golkar melakukan gebrakan yang mengubah peta permainan sejak jauh-jauh hari. Mengejar ambisi membentuk sosok yang seharusnya berasal dari organ yang menyebut dirinya, Golongan Karya alias Golongan Pekerja alias Golongan Rakyat.

Partai yang juga Golongan ini, memang seperti namanya, menimbulkan ambigu. Sebab di satu sisi, organ ini melabeli dirinya dengan nama yang seolah berpihak pada rakyat, namun kenyataannya, puluhan tahun Golkar justru dianggap sebagai simbol kekuasaan sentralistik.

Saking lekatnya karakter "mendua", Golkar bahkan sempat mendadak jadi kembar, Golkar Aburizal Bakrie versus Golkar Agung Laksono. Kalau kata anak muda jaman sekarang, Golkar itu BM (Be-Em) alias Banyak Maunya.

Sekarang, Golkar kembali memainkan strategi kembar di Pilkada Sulsel yang akan berlangsung pertengahan 2018. Alih-alih melanjutkan dukungan pada Limpo dan Numang, Golkar memilih jalan berbeda.

Pada 2013, Golkar berhasil memenangkan pasangan Syahrul Yasin Limpo dan Agus Numang sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel. Masa jabatan Syahrul Yasin Limpo yang sudah habis periode, maka pilihan mudah bagi Golkar adalah mengusung Ichsan Yasin Limpo (adik Syahrul Yasin Limpo) dan Agus Numang, atau sebaliknya Golkar mengusung Agus Numang dan Ichsan Yasin Limpo di Pilkada Sulsel 2018.

Secara hitungan politik sederhana, Golkar mengusung duet Ichsan Yasin Limpo dan Agus Numang atau sebaliknya, adalah pilihan mudah dan logis. Meski sejumlah nama dalam keluarga Limpo terseret kasus dan citra negatif, Ichsan Yasin Limpo boleh dikatakan sebagai satu-satunya anggota keluarga Limpo yang bersih dan berprestasi. Lalu Agus Numang juga sempat dijagokan oleh parpol-parpol Islam di Sulsel.

Oleh karenanya, jika Golkar melanjutkan dukungan pada Agus Numang dan Ichsan Yasin Limpo maupun sebaliknya, artinya Golkar juga akan menggaet Blok Islam di Sulsel. Seharusnya, kunci kemenangan di tangan.

Toh jika tidak memilih Agus Numang atau Ichsan Yasin Limpo, Golkar masih punya pilihan pada mantan Kapolda Sulsel dan Sulbar, Burhanuddin Andi. Burhanuddin Andi adalah orang yang dihormati di Sulsel dan Sulbar, juga bagian dari kekerabatan Sulbar yang memisahkan diri dari Sulsel pada 2004.

Secara kultural, aparat kepolisian maupun tentara, masih menjadi patron kuat di Sulsel. Itulah sebabnya, sosok Burhanuddin Andi mendapat tempat terhormat di dua provinsi yang sempat seteru (etnis Mandar vs Bugis Makassar) hingga akhirnya disepakati dipisahkan pada 2004. Baik masyarakat Sulsel maupun Sulbar, melihat Burhanuddin Andi sebagai sosok netral dan penengah antara rakyat dan politikus.

Sejak tahun lalu, Burhanuddin Andi telah membentuk 24 tim pemenangan di 24 kabupaten Sulsel, untuk ikut pertisipasi sebagai Calon Gubernur Sulsel 2018 2023. Secara relasi politik, Burhanuddin Andi juga seharusnya masuk dalam daftar nama papan atas di Golkar Sulsel. Sebagai bagian dari kekerabatan Sulbar yang juga menjadi basis kuat Golkar di Sulawesi, seharusnya Golkar Sulsel juga bisa melirik Burhanuddin Andi.

Memang banyak orang bilang, provinsi Sulbar adalah hasil kerja Golkar dari blok Aburizal Bakrie. Boleh jadi, tarik menarik antara Aburizal Bakrie versus Agung Laksono yang dibeking Jusuf Kalla, menjadi alasan kenapa Golkar tidak mengambil pilihan pada tiga nama kuat yang sudah hadir di Sulsel dan memiliki kedekatan dengan Golkar, yaitu Burhanuddin Andi, Ichsan Yasin Limpo dan Agus Numang.

Namun rupanya, Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto berpikir lain. Alih-alih mengambil jalan mudah, Golkar memilih jalan sulit.

Mendadak, Setya Novanto perintahkan DPP Golkar memecat Syahrul Yasin Limpo dari Ketua Golkar Sulsel dan mengangkat Nurdin Halid sebagai Plt Ketua Golkar Sulsel. Selanjutnya, Plt Ketua Golkar Sulsel Nurdin Halid, memecat Ichsan Yasin Limpo dari Bendahara Golkar Sulsel dan mengangkat Rusdin Abdullah sebagai penggantinya.

Apa yang ada dalam benak Setya Novanto ketika sekejap merombak seluruh rencana politik Golkar di Sulsel, masih menjadi misteri. Sebab, hasil survey internal Golkar dikabarkan menghasilkan elektabilitas 2% saja untuk Nurdin Halid. Namun, Golkar tetap menjagokan Nurdin Halid. Ada apakah gerangan? Siasat apa yang sedang dijalankan Setya Novanto? Apakah beralasan rasional? Ataukah ada alasan lain?

Sebab diangkatnya Nurdin Halid secara paksa seolah ada intervensi atau situasi tertentu. Mengingat kedekatan Nurdin Halid dengan keluarga Bakrie yang hingga saat ini menjadi pemodal utama Partai Golkar, banyak yang berspekulasi demikian.

Tahun lalu, Ketua Umum Golkar Setya Novanto sempat beribadah Umroh bersama Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah. Ketika itu, Nurdin Abdullah masih belum didukung parpol mana pun dan sedang didekati oleh PDIP dan Demokrat. Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono malah sempat mengundang Nurdin Abdullah makan siang di Bali. SBY bahkan mengatakan sangat mendukung program ketahanan pangan Nurdin Abdullah untuk Sulsel.

Nurdin Abdullah adalah salah satu kandidat Gubernur Sulsel yang disukai masyarakat Sulsel. Selain Nurdin Abdullah, wajah-wajah baru Sulsel yang disukai masyarakat, khususnya pemilih baru adalah Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung dan Walikota Makassar Danny Pomanto.

Nurdin Abdullah, mengambil formula yang sama dengan gebrakan Jokowi Ahok di Pilkada DKI 2012, serta Ahok Djarot di Pilkada DKI 2017. Nurdin Abdullah menggalang gerakan independen muda-mudi Sulsel untuk menjadi posisi tawar utama kepada parpol-parpol, sebagaimana di DKI, Ahok memulai dari gerakan independen Teman Ahok, untuk mendapatkan dukungan Golkar, Nasdem, Hanura dan PDIP.

Saat ini, Nurdin Abdullah sudah mendapatkan dukungan dari PDIP, sedangkan Demokrat belum terlihat telah memilih Nurdin Abdullah. Namun terjadinya makan siang Jokowi dan SBY beberapa waktu lalu di Istana Negara, kemungkinan besar akan terjadi konsolidasi PDIP dan Demokrat di berbagai area Pilkada 2018, meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Spekulasi yang beredar mengatakan PDIP dan Demokrat akan menjadi pendukung utama Nurdin Abdullah. [bersambung/rok]

(Baca juga: Pilkada Sulsel, Nurdin Menantang Cermin (2)

 
x