Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 Oktober 2017 | 05:57 WIB

65 Persen TKI Asal Tulungagung jadi PRT

Oleh : Indra Hendriana | Senin, 13 Maret 2017 | 02:02 WIB
65 Persen TKI Asal Tulungagung jadi PRT
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Tulungagung - Sebanyak 65 persen tenaga kerja Indonesia (TKI) dari Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur di sejumlah negara Asia bekerja di sektor informal atau sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

Sedangkan sisanya bekerja di sektor formal, yakni di kantor atau yang lain. "(Sektor) Informasl cukup banyak. Prosentasenya hampir 65 persen dibanding sektor formal," kata Kabid Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja dan Pelatihan Kerja Dinas Sosial Tenaga Kerja Kabupaten Tulungagung Trining Ch Rahayu di Tulungagung, Minggu (12/3/2017).

Hal itu berdasarkan data keberangkatan TKI dari daerah itu selama triwulan pertama periode 2017. Setidaknya tercatat 3.464 TKI yang berangkat secara resmi/legal. Dari jumlah itu 2.244 yang bekerja di sektor informal dan PRT.

"Kendati sudah ada moratorium penghentian dan larangan penempatan TKW/TKW yang bekerja di sektor informal, secara efektif kebijakan itu belum bisa dilaksanakan," katanya.

Trining mengatakan, tindak lanjut aturan tersebut sejauh ini belum jelas. "Saat ini dalam proses dan menunggu aturan serta kebijakan pasti bagaimana moratorium tersebut," katanya.

Dengan begitu, penghentian dan larangan penempatan TKW yang bekerja sektor informal atau sebagai PRT belum tentu bisa dilaksanakan secara langsung kecuali bertahap, termasuk di Tulungagung.

Alasannya, kata dia, hingga saat ini lapangan kerja di Indonesia, khususnya di Tulungagung masih belum memadahi.

Padahal pilihan kerja bagi TKI selama ini didominasi sektor informal atau PRT, seperti sebagai asisten rumah tangga, pengasuh balita/anak (baby sister), pengasuh lansia hingga buruh.

"Gubernur dalam rapat sebelumnya juga menyatakan kalau dibutuhkan waktu secara bertahap untuk menerapkan moratorium penghentian pengiriman TKI PRT. Sebab, selain banyak peminatnya, juga karena masih belum banyak lapangan kerja yang memadai," katanya.

Kendati moratorium belum efektif, Trining menyatakan telah berupaya mengurangi jumlah TKW yang bekerja sebagai PRT, salah satunya dengan mengarahkan pemilihan pekerjaan di sektor formal, seperti sebagai pekerja di pabrikan, perusahaan, ataupun lainnya.

Tags

Komentar

 
x