Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 28 Mei 2017 | 00:32 WIB

Tito: Mahasiswa Harus Bersikap Kritis

Oleh : Ahmad Sayuti | Rabu, 8 Maret 2017 | 17:14 WIB
Tito: Mahasiswa Harus Bersikap Kritis
Kapolri Jenderal Tito Karnavian - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Bandung - Kalangan kampus atau intelektual, diharapkan bisa menjadi penyeimbang bagi kelas menengah dan menyuarakan kelas bawah.

Kekritisan para mahasiswa jangan sampai terkikis apalagi di Era demokrasi di bangsa Indonesia yang bhineka ini.

"(Kampus) kalangan intelektual, kalangan kelas menengah. Mereka memiliki daya kritis analisis rasional. Kita harapkan mereka jadi kelas menengah, jangan silent majority," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian usai memberikan kuliah umum soal Kebhinekaan di Institut Tekhnologi Bandung (ITB) Jalan Ganeca, Rabu (8/3/2017).

Menurutnya, masalah kebhinekaan sangatlah penting, harus dirawat dan dijaga. Apalagi saat ini bangsa tengah menghadapai tantangan internal dan eksternal, salah satunya masalah kesenjangan.

Ia menjelaskan, 71 tahun Indonesia Merdeka masih banyak kesenjangan terjadi. Low class (kelas bawah) sangat besar, walaupun sudah membaik seiring berjalannya waktu. Namun itu bisa jadi satu faktor penyebab ketegangan antar class-class lain, baik menengah ataupun atas.

"Kalangan kampus ini harus bersuara untuk mengimbangi kelas menengah. Menyuarakan kelas bawah dan kalangan kampus memberikan pemikiran profuktif, rasional, metodologis dalam rangka memecahkan masalah kebangsaan ini khususnya masalah Kesenjangan," ujarnya.

Sementara faktor eksternal itu terlihat dengan makin kuatnya demokrasi dan liberalisasi. Satu sisi sangat bagus untuk sistem ceck and balance dalam pemerintahan, sebab peran rakyat untuk membangun sangat besar.

Tapi di sisi lain, sistem demografi bangsa ini masih didominasi oleh kelas bawah, demokratisasi bisa dimanipulasi oleh kelas atas. Sehingga perlu faktor penyeimbang menengah termasuk kalangan kampus, kalangan intelektual.

Ditanya soal kebhinekaan yang berujung lahirnya radikalisme, Tito menyebutkan, radikalisme yang rawan itu yang pro kekerasan. Kalau tidak dibarengi dengan kekerasan itu masih bisa ditoleransi.

"Kalau radikalisme menggunakan kekerasan, bunuh diri, ngebom itu berbahaya. Ini ga boleh terjadi. Nah ini terjadi karena adanya kebebasan tadi. Bayangin dari Internet masuk paham-paham boleh bunuh diri, jihad, dan sebagainya," ujarnya.[jat]

 
x