Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 25 Mei 2017 | 10:06 WIB

Selamat Datang Raja Salman bin Abdulaziz

Oleh : Latihono Sujantyo | Selasa, 28 Februari 2017 | 00:03 WIB
Selamat Datang Raja Salman bin Abdulaziz
Raja Salman bin Abdulaziz - (Foto: gettyimages)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta --- Jika tidak ada halangan, hari Rabu (01/03/2017) besok, Raja Salman bin Abdulaziz tiba di Indonesia. Dia membawa 1.500 orang, di antara 10 menteri dan 25 pangeran kerajaan. Rombongan besar itu dibawa dengan 7 pesawat berbadan lebar, yakni Boeing 747, 777, dan 737.

Ini adalah kunjungan Raja Arab Saudi pertama, setelah terakhir Raja Faisal bin Abdulaziz 47 tahun lalu mendarat di Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat dan mendapat sambutan hangat Presiden Soeharto.

Kunjungan ke Indonesia adalah bagian dari roadshow Raja Salman dan rombongan ke beberapa negara Asia. Setelah dari Malaysia dan Indonesia, Raja Salman dan rombongan akan ke Brunei Darussalam, Jepang, China, Maladewa, dan Yordania.

Dari kunjungan ke berbagai negara tersebut, Indonesia mungkin dianggap yang paling istimewa. Selain berada di Indonesia 9 hari, jumlah rombongan yang dibawa juga sangat banyak, yakni 1.500 orang.

Di Malaysianegara pertama yang dikunjungiRaja Salman dan rombongan hanya menginap tiga hari. Jumlah rombongannya pun kurang separuh dari Indonesia, yakni hanya 600 orang.

Indonesia menjadi istimewa di mata Raja Salman mungkin lantaran jumlah warga Muslimnya terbesar di dunia. Mungkin juga karena setiap tahun warga Muslim Indonesia yang paling banyak pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Maka tidak begitu mengherankan, salah satu topik pembicaraan Raja Salman dan Presiden Jokowi nanti membahas penambahan kuota haji untuk Indonesia.

Di mata warga Muslim Indonesia, Saudi adalah sebuah negara yang amat penting. Sebab, di negara kerajaan itu terdapat dua kota suci, yakni Mekkah dan Madinah. Pengelola dua kota suci ini adalah Raja. Jadi, di mata sebagian besar warga Muslim Indonesia, Raja Salman adalah orang yang harus dihormati.

Dibandingkan dengan raja-raja sebelumnya, Raja Salman dinilai lebih dekat dengan tradisi Arab. Menurut Ketua PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas, dalam cara berpikir Raja Salman tidak terlalu Amerika Serikat. "Beda dengan Raja Fahd," kata Yunahar seperti dikutip dari BBC.

Salman menjadi Raja Arab Saudi pada 23 Januari 2015 menggantikan saudara tirinya, Raja Abdullah yang wafat. Sebelumnya, Salman adalah Gubernur Riyadh, Ibu Kota Saudi, selama 48 tahun.

Lantas, apa tujuan Raja Salman dan rombongan ke Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya? Salah satu tujuan utama mereka adalah menjalankan progam reformasi ekonomi yang diluncurkan Pemerintah Arab Saudi tahun 2016 bertajuk Saudi Vision 2030 atau Rencana Visi 2030. Tujuan utama Saudi Vision 2030 adalah mengurangi ketergantungan negara ini pada minyak.

Saat mengumumkan Rencana Visi 2030, Wakil Putera Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman menggambarkan negaranya 'kecanduan minyak'. Kepada stasiun berita milik pemerintah, Saudi Al-Arabiya, Mohammed memastikan 'kita dapat hidup tanpa minyak pada tahun 2030'.

Langkah pertama yang dilakukan adalah menjual 1% saham perusahaan minyak raksasa pemerintah, Aramcoperusahaan bernilai US$ 2,5 triliun. Sebagian hasil penjualan ini akan dimasukkan ke dalam kekayaan berdaulat senilai US$ 2 triliiun atau Rp 26.000 triliun.

Saudi memang sedang mengalami kesulitan keuangan. Tahun 2015, negara ini mengalami defisit sampai US$ 98 miliar.

Semua itu terjadi lantaran anjloknya harga minyak mentah sampai di bawah US$ 40 per dolar di tahun 2014 hingga awal 2016. Harga minyak rendah yang berlangsung dua tahun lebih itu telah mengakibatkan keuangan negara ini rontok. Maklum saja, hampir 80% pendapatan Saudi berasal dari minyak.

Kesulitan keuangan juga telah membuat Pemerintah Saudi memangkas subsidi yang selama ini dinikmati rakyatnya. Dimulai dengan memangkas subsidi bensin. Semula, harga BBM hanya US$ 16 sen per liter, kini menjadu US$ 24 sen.

Memang, harga bensin seperti itu masih sangat murah. Tapi jangan salah,pemangkasan itu juga akan terjadi pada fasilitas lainnya, seperti subsidi air, listrik, pendidikan hingga pengenaan pajak penghasilan.

Seperti diketahui, sebelumnya, rakyat Saudi dimanjakan dengan segala fasilitas yang serba gratis. Mulai dari layanan kesehatan, tunjangan pengangguran hingga pinjaman bebas bunga untuk membantu pemilikan rumah dan membuka usaha.

Banyak Tantangan

Langkah Saudi melakukan reformasi ekonomi tidaklah mudah. Banyak tantangan yang bakal dihadapi. Tahun 1970, Kerajaan Saudi pernah melakukan langkah serupa, yang dikenal Rencana Lima Tahun, tapi tidak berhasil. Pangkal masalah negara ini adalah hambatan struktural yang hingga kini masih berlangsung.

Salah satu kendala utama adalah hampir semua sektor kehidupan selama puluhan tahun diberikan makan oleh negara. Hampir dua pertiga pekerja Saudi bekerja di pemerintah. Total upah yang dibayar pemerintah kepada pegawainya mencapai 4% dari PDB. Jadi, bisa dibayangkan saat harga minyak anjlok dan anggaran pemerintah defisit.

Nah,ketika harga minyak anjlok dan pendapatan pemerintah jeblok, rakyat Saudi pula yang merasakan akibatnya. Subsidi dan gaji besar yang selama ini mereka nikmati terpaksa dikurangi.

Saudi juga menghadapi tantangan sulit di panggung politik global. Agresi Arab Saudi ke Yaman dan keterlibatannya pada konflik di Suriah dan beberapa negara di Timur Tengah semakin mempersulit keuangan negara tersebut.

Celakanya, banyak kalangan menyebutkan bahwa sistem politik di Saudi tidak transparan dan dugaan masih tingginya tingkat korupsi di sana.

Kini, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Saudi Vision 2030 akan bernasib sama dengan Rencana Lima Tahun yang pernah digulirkan tahun 1970? Atau Saudi malah berhasil, setelah Raja Salman dan rombongan mengunjungi beberapa negara, termasuk ke Indonesia pada 1-9 Maret 2017? Wallahu a'lam. [lat]

 
x