Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Oktober 2017 | 11:40 WIB

Coba Onani Gaya Ekstrim, Pria Ini Malah Tewas

Oleh : Ajat M Fajar | Jumat, 17 Februari 2017 | 22:18 WIB
Coba Onani Gaya Ekstrim, Pria Ini Malah Tewas
(Foto: beritajatim)
facebook twitter

INILAHCOM, Surabaya - Kematian Priyo Agya Rizky Sumantri pelajar SMA yang tinggal di Perum Wiguna Timur Gang VIII No 31 Kecamatan Gunung Anyar Surabaya bermotif meniru bintang film kungfu.

Seperti diketahui Agya Rizky Sumantri ditemukan tewas dalam kondisi tergantung di samping rumahnya, Kamis (16/2) kemarin. Kematian itu ternyata tidak lazim, karena saat ditemukan tubuhnya telanjang dan terikat beberapa rangkaian tali.

Tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polrestabes yang melakukan olah TKP menduga kematian korban seperti kejadian pada bintang film Kungfu, David Carradine yang ditemukan tewas beberapa waktu lalu di sebuah hotel di Bangkok, Thailand.

Dalam kasus disana polisi setempat menemukan mayatnya di dalam kamar mandi, dengan leher dan alat kelamin terikat tali. Temuan ini mendukung teori polisi yang menyatakan bahwa aktor bernama lengkap John Arthur Carradine ini meninggal karena melakukan masturbasi (onani) dengan teknik yang disebut Auto-Erotic Asphyxiation (AEA).

Sementara kejadian pada korban gantung diri dengan tubuh tanpa sehelai benangpun. Lalu tali yang mengikat tubuh korban, ada beberapa rangkaian, yaitu pada kaki sebelah atas lutut, sela pangkal paha, perut, alat kelamin, tangan kiri dan leher.

Semua ikatan itu diawali dengan simpul hidup dan diakhiri simpul mati. Dengan maksud agar bisa meloloskan diri setelah mendapat kepuasan.

Dugaan tersebut semakin menguat karena dari hasil autopsi diketahui bahwa sang bintang film meninggal karena kehabisan oksigen sementara pada tubuh Carradine tidak ditemukan tanda-tanda perlawanan.

"Jadi kesimpulan medis bahwa korban menderita asphyxiation autoerotic jenis gantung diri atau hanging," kata Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Shinto Silitonga, Jumat (17/2/2017).

Sehingga, korban menggantung diri bukan bertujuan untuk menyakiti diri sendiri, melainkan untuk kepuasan seks dengan cara-cara ekstrem. Hal ini diperkuat lagi, polisi tidak ditemukan adanya silent dead atau pesan kematian, seperti umumnya orang bunuh diri.

"Biasanya penderita asphyxiation atau asfiksia, dilakukan pada orang-orang tertutup, belum menikah atau bujang," terang Shinto.

Jadi, kata Shinto, dari hasil olah TKP tim indentifikasi Polrestabes Surabaya, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan atau akibat kekerasan yang dilakukan orang lain pada tubuh korban.

"Peristiwa itu murni bunuh diri. Namun, bunuh diri itu bukan tujuan korban, melainkan untuk kepuasan seksual," ucapnya.

Shinto menjelaskan, peritiwa ini kali pertama diketahui ibu tiri korban, yang pulang dari bekerja. "Awalnya, saat dilepon, korban tidak menyahut. Karena curiga, ibu korban pulang, dan mendapati lorong rumahnya terkunci serta mendapati korban tergantung. Ibu korbanpun berteriak minta tolong ke warga sekitar," tandasnya.[beritajatim]

Komentar

 
x