Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 19 Agustus 2017 | 08:48 WIB

AHY Tumbang, Bully SBY Berganti Pujian

Oleh : R Ferdian Andi R | Jumat, 17 Februari 2017 | 01:08 WIB
AHY Tumbang, Bully SBY Berganti Pujian
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejak November 2016 hingga menjelang pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta kerap menjadi bahan olok-olok dan sasaran tembak. Apakah suasana yang sama masih berlangsung setelah putera sulungnya gagal dalam Pilkada DKI Jakarta?

Dinamika politik di pilkada DKI Jakarta selama hampir lima bulan terakhir memiliki eskalasi yang meningkat. Bahkan, dalam titik tertentu, suasana politik cukup keras. Maka tak salah bila menyebut Pilkada DKI Jakarta merupakan pilkada rasa Pilpres.

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan salah satu tokoh yang selama ajang Pilkada kemarin cukup banyak mendapat sorotan. Baik di media mainstream maupun di media sosial. Tak jarang, olok-olokan termasuk celaan secara terbuka muncul di media sosial yang tertuju pada mantan presiden keenam tersebut.

Sejak awal, SBY sadar, sejak putera sulungnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) maju dalam Pilkada DKI Jakarta serangan politik terhadap dirinya dan keluarganya makin meningkat. "Sejak Agus Harimurti mencalonkan diri angin menerpa saya dan keluarga dengan sangat kencangnya. Saya memohon, minta pertolongan Allah SWT, semoga Agus yang menggunakan hak konstitusionalnya ikut kompetisi pemilihan gubernur Jakarta tidak dianggap sebagai ancaman keamanan nasional," kata SBY dalam jumpa pers di kediaman, Cikeas, Bogor, Jawa Barat, 2 November 2016.

Memang, pernyataan SBY terkonfirmasi di lapangan. Sejumlah isu politik yang dihembuskan selama menjelang Pilkada cukup kuat terhadap SBY. Mulai soal hilangnya dokumen Tim Pencari Fakta (TPF) kasus pembunuhan Munir, dugaan penyadapan telepon SBY, serta tudingan intervensi terhadap MUI untuk mengeluarkan fatwa terhadap Ahok. Setidaknya, hal tersebut mengemuka dalam persidangan kedelapan atas terdakwa Basuki Tjahaja Purnama di PN Jakarta Utara.

Menariknya, menjelang H-1 pelaksanaan Pilkada, mantan terpidana kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain, Antasari Azhar menggelar jumpa pers di Bareskrim Mabes Polri agar SBY terbuka terkait masalah yang pernah menjeratnya. "Saya mohon kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono jujur, dia tahu perkara saya ini," ujar Antasari di Kantor Bareskrim Mabes Polri di Jakarta, Selasa (14/2/2017).

Di setiap isu yang mengemuka tersebut, SBY memberi tanggapan ke publik. Bantahan dan respons terhadap tudingan yang mengarah kepada dirinya direspons baik melalui media sosial maupun menggelar jumpa pers secara terbuka. Meski, bila dilihat di jejaring media sosial, olok-olokan dan tudingan "Baper" (bawa perasaan) terhadap SBY kerap muncul dominan.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah merespons soal tudingan Antasari terhadap SBY terkait kasus yang melilitnya. Fahri menyebutkan tudingan Antasari Azhar terhadap SBY tidak masuk akal. Menurut dia, prosedur hukum terhadap Antasari telah dilalui hingga tahapan puncak peninjauan kembali (PK).

"Pengadilan demi pengadilan mengukuhkan kesalahan Antasari, MA dua kali, semua ditolak, jangan salahkan Pak SBY, kalau kita percaya sistem hukum dan seorang hamba hukum, dia harus melihat," ujar Fahri di gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Kamis (16/2/2017).

Semestinya, kata Fahri, tudingan kriminalisasi terhadap Antasari Azhar termasuk ke Anas Urbaningrum dijawab KPK, Mabes Polri, bukan SBY. Menurut dia, dalam kasus yang menjerat Antasari Azhar maupun Anas Urbaningrum, sistem hukum telah berjalan. "Kalau menyalahkan SBY, kan bilang tidak ada independensi di Kepolisian dan KPK. Ini Mabes Polri yang jawab, bukan Pak SBY yang jawab," sebut Fahri.

Realitas politik Pilkada DKI Jakarta akhirnya memupuskan niat Agus-Sylvi maju menjadi Gubernur DKI Jakarta selama lima tahun ke depan. Menjadi pertanyaan umum, apakah serangan dan olok-olok yang ditujukan kepada SBY apakah secara konstan akan masih terjadi terhadap SBY? Atau justru pasca terdepaknya Agus dari kontestasi pilkada, maka berhenti pula serangan politik ke SBY?

Untuk menjawabnya sebenarnya mudah, karena dalam hitungan jam pasca-hitung cepat sejumlah lembaga survei, sanjungan dan pujian terhadap AHY mengalir deras dari pihak-pihak yang selama ini justru paling getol merisak AHY dan SBY. Jejak digital memudahkan publik untuk menilai terhadap lelaku jari-jari yang berkicau di media sosial. [mdr]

 
x