Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 25 Juli 2017 | 15:48 WIB

FP BUMN Minta KPK Awasi Persidangan Geo Dipa

Oleh : - | Kamis, 9 Februari 2017 | 22:31 WIB
FP BUMN Minta KPK Awasi Persidangan Geo Dipa
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Forum Peduli (FP) BUMN menilai ada mafia hukum yang bermain dalam perkara BUMN di bidang panas bumi PT Geo Dipa Energi (Persero) yang berniat mencaplok aset BUMN.

Karena itu pihaknya meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengawasi secara seksama persidangan kriminalisasi terhadap BUMN ini.

"KPK harus ikut memiliki tanggungjawab moral untuk menyelamatkan aset negara. Karena ada upaya kriminalisasi yang berpotensi merugikan keuangan negara," kata Koordinator FP BUMN Romadhon Jasn, Kamis (9/2/2016).

Secara khusus FP BUMN meminta KPK mengawasi sejumlah aparat hukum dalam persidangan yaitu Ketua dan anggota majelis hakim Djoko Indiarto, Ferry Agustina Budi Utami, dan Agus Widodo. Juga Panitera Pengganti Tarmizi, dan Penuntut Umum Novionnora dan Dorkas Berlian.

Romadhon dan sekitar 50-an anggota FP BUMN sebelumnya menggelar aksi unjuk rasa di Gedung KPK untuk mendesak KPK bertindak lebih pro aktif. Sehingga negara tidak terlambat dalam proses penyelamatan aset BUMN ini yang merupakan aset negara.

"Persidangan yang melibatkan Geo Dipa ini adalah upaya sistematis mafia hukum dengan modus kriminalisasi. Motifnya ekonomis, yaitu pencaplokan aset BUMN, yang melibatkan aparat hukum dengan pengusaha hitam," ujar Romadhon yang juga Direktur Institut Garuda Nusantara itu.

Menurutnya, aparat hukum di atas sangat bertanggungjawab atas hilangnya aset BUMN yang paling tidak senilai Rp 2,5 Triliun. Sehingga, terutama KPK maupun pihak pemerintah lainnya seperti, Mahkamah Agung, Pengadilan, Komisi Yudisial dan Menko Polhukam harus memberikan perhatian terkait persoalan ini.

Permasalahan dalam perkara ini bermula dari sengketa perdata antara Geo Dipa dan PT Bumigas Energi sehubungan dengan pelaksanaan Kontrak. Di mana perjanjian tersebut telah dibatalkan oleh Badan Arbitrassi Nasional Indonesia (BANI) karena PT Bumigas Energi cidera janji (wanprestatie) tidak dapat memulai pelaksanaan kontrak.

Romadhon menilai, berdasarkan bukti-bukti dan fakta-fakta hukum sesungguhnya perkara ini murni perdata yang dikriminalisasi. Buktinya, sengketa kontrak di lingkup perdata yang merugikan Geo Dipa sendiri tapi kemudian bergeser masuk ke dalam ranah hukum pidana dengan pihak Geo Dipa yang diadukan.

Yang mengadukan adalah Direktur Bumigas saat itu, Haryono Mulyawan, dan Direktur Bumigas sekarang, David Randing melalui Kuasa Hukum nya, Bambang Siswanto, ke Bareskrim.

Dan celakanya, menurut Romadhon, Bareskrim serta Kejaksaan Agung pun seolah mendukung upaya kriminalisasi Bumigas ini. Hal ini bisa menjadi preseden buruk bagi siapa saja yang bermaksud merampok aset-aset BUMN maupun aset-aset negara lainnya dengan melakukan hal-hal yang sama yang dilakukan Bumigas.

Oleh karena itu, menurut Romadhon, jika Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini tidak mempertimbangkan bukti-bukti dan fakta-fakta hukum yang sebenarnya terjadi maka mereka pun harus turut bertanggungjawab atas hilangnya aset BUMN ini. Dan juga aset BUMN serta aset negara lainnya di masa datang.

Bukan hanya itu, dampak kriminalisasi ini juga sangat menggangu program pemerintah, karena iklim usaha panas bumi di Indonesia sedang didorong pemerintah serta menjadi program vital yang menggerakan perekonomian nasional.

Seperti diketahui, Geo Dipa termasuk dalam salah satu bagian dari program Pemerintah Republik Indonesia untuk ketahanan energi listrik 35.000 MW sebagaimana diinstruksikan oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo dan saat ini telah ditetapkan sebagai salah satu obyek vital nasional. [ton]

Tags

 
x