Find and Follow Us

Rabu, 26 Juni 2019 | 22:21 WIB

Cadangan Air Tanah di Bali Tersisa di Bawah 20%

Oleh : Dewa Putu Sumerta | Rabu, 29 April 2015 | 14:06 WIB
Cadangan Air Tanah di Bali Tersisa di Bawah 20%
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Denpasar - Penelitian teknisi Program Penyelamatan Air Bali atau Bali Water Protection (BWP) yang terdiri dari Politeknik Negeri Bali (PNB), dan Yayasan IDEP Selaras Alam, melansir data mengejutkan tentang cadangan air tanah di Pulau Bali tercatat hanya tersisa di bawah 20%.

Minimnya cadangan air tanah di wilayah Bali ini apabila tidak segera ditanggapi dengan serius, maka akan berpotensi menyebabkan Pulau Bali mengalami krisis ekologi pada 2020.

"Permintaan yang tinggi terhadap air bersih di perkotaan padat penduduk dan kawasan pariwisata di Bali Selatan menyebabkan cadangan air bersih terancam," ujar Peneliti Teknik Sipil PNB, Ida Bagus Putu Bintana, di Denpasar, Selasa (28/4/2015).

Gus Bintana mengingatkan jika daerah pesisir Bali akan mengalami kebocoran atau instrusi air laut, apabila tidak ada pihak-pihak mengambil langkah untuk mengembalikan kondisi cadangan air seperti semula.

"Air tersebut harus disalinasi dengan alat yang sangat mahal untuk mengembalikan subsidi air ke perumahan penduduk, pertanian, dan kawasan pariwisata," jelasnya.

Untuk itu, ia mengajak aksi nyata dari para pelaku pariwisata Bali dalam mengingatkan kesadaran masyarakat dan edukasi penduduk serta pemangku kepentingan mengenai krisis air ini.

"Ancaman menipisnya cadangan air sudah sangat nyata di depan masyarakat Bali," tegasnya.

Sementara penasihat program Yayasan INDEP Florence Cattin menambahkan, jika sebelumnya sudah ada solusi ekonomi dan efektif yang dimulai sejak 2012 untuk mengatasi persoalan air di Bali ini.

"Program perdana berupa penyelamatan air dengan biaya kurang dari US$1 juta dengan membangun sebanyak 136 sumur yang berfungsi sebagai penangkap air hujan di 13 lokasi strategis di seluruh Bali," ungkapnya.

Sistem itu, kata Florence, sudah berhasil dijalankan di India yang daerahnya memiliki tingkat kekeringan tinggi.

"Model tersebut ditiru di Bali karena diyakini memberikan hasil maksimal dan cepat dalam meningkatkan level air dalam jangka waktu 3-5 tahun di daerah yang mengalami krisis dan terancam instrusi air laut tersebut," pungkasnya. [yha]

Komentar

x