Find and Follow Us

Kamis, 17 Oktober 2019 | 03:37 WIB

Politik yang Terlaknat

Oleh : Darmawan Sepriyossa | Selasa, 27 Januari 2015 | 12:30 WIB
Politik yang Terlaknat
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta- "Laknatullah ala as-siyasah," sabda Nabi Muhammad SAW, suatu ketika. "Laknat Allah atas politik."

Apakah Nabi yang mulia begitu naifnya hingga mengatakan hal itu? Sementara kita tahu, sebagai makhluk sosial manusia tak mungkin hidup tanpa politik? Masak Nabi tak menyadari kebenaran fakta yang diungkap Aristoteles, yang sebenarnya merupakan common sense saja, yakni manusia adalah makhluk yang bersosial (zoon politicon)?

Melepaskan pernyataan itu dari konteksnya hanya akan membuat sabda Sang Maulana seolah bertabrakan dengan sabdanya yang lain. Abu Said al-Khudri pernah meriwayatkan sabda Nabi SAW, "Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubah dengan tangannya, sekiranya tidak mampu maka dengan lidahnya, sekiranya tidak mampu lagi maka dengan hatinya. Cara demikian (dengan hati) itu adalah selemah-lemahnya iman."

Dengan tangan, kata Nabi. Dan kata tangan ini kerap dimaknai sebagai kekuasaan. Dan kekuasaan, tentu saja bersangkut akrab dengan politik. Jadi mana mungkin Nabi melaknat sesuatu yang potensial membangun amar makruf nahyi munkar.

Bahkan saking perlunya kekuasaan untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi, Imam Al Ghazali konon pernah berkata," Agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi dan kekuasaanlah penjaganya. Sesuatu yang tidak berpondasi akan hancur, dan segala yang tidak memiliki penjaga pasti akan musnah."

Artinya, politik yang terlaknat hanyalah politik yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai amanah demi menjadikan bumi sebagai wilayah yang adil, makmur merata dan tertata. Politik yang terlaknat adalah politik yang menjadi realitas keseharian kita di Indonesia hari-hari ini. Politik yang menutup mata bahwa kuasa hanya layak diberikan kepada mereka yang mampu, kredibel dan amanah. Politik yang membuta kepada moral dan nurani; yang diisi figur-figur haus kekuasaan tanpa pernah bertanya ke dalam hati untuk apa ia berkuasa.

Politik yang terlaknat adalah politik yang hanya menitikberatkan perjuangan kepada usaha mengejar kursi kekuasaan. Politik yang dilaknat, barangkali adalah politik yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan, bukan alat untuk menegakkan kebenaran.

Para aktor politik terlaknat adalah mereka yang membuta tuli akan firman Tuhan," Kampung akhirat Kami sediakan buat orang-orang yang tidak haus kekuasaan (sewenang-wenang), serta tidak berbuat kejahatan di muka bumi..." (QS 28:83).

Hanya dalam arena politik terlaknatlah kita menyaksikan komunikasi hanya jadi alat untuk sekadar serang-menyerang dan merendahkan. Hanya jadi sarana saling membuka aib dan mengubek borok.

Di negara yang menggulirkan politik terlaknat, politik tak pernah menjadi sebuah gerak dan upaya yang adil untuk terus membuat semua orang lebih memanusia. Tak pernah menjadi alat perjuangan penuh gairah untuk membuat setiap diri menjadi rahmat bagi semua.

Di negeri yang melanggengkan politik terlaknat, politik tak pernah menjadi jati dirinya sendiri, yakni sebagaimana dinyatakan Alain Badiou, sebuah upaya terus menerus dan penuh gairah melawan kebekuan yang mencekik. Politik (yang sejati), dengan kata lain adalah kerja melawan jumud. Melawan kekuatan anti-kemanusiaan.

Sungguh, apa yang terpampang di halaman muka-halaman muka media massa tentang politik kita di hari-hari terakhir ini, wajar membuat kita mengelus dada. Begitu nyata, elit-elit yang kita miliki hanyalah para binatang politik pemuja Papa Nicksapaan menyindir untuk Nicolo Machiavelli, yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.The end, demikian para binatang politik ini percaya,justifies the means. Mereka pun menjadikan dongeng Machiavelli dalam Il Principe-nya yang tersohor itu lebih sakral dari ayat-ayat kitab suci.

Sebagai justifikasi atas kebinatangan mereka, para machiavellian itu mungkin akan mengungkap satu bagian di antaranya. Pada Illiad karangan Homerus, Machiavelli bercerita, masa kecil para penguasa negara-kota atau polis, selalu diasuh seekor makhluk setengah hewan setengah manusia. Bagi Machiavelli, kisah itu hanya kiasan bahwa seorang politisi, seorang penguasa, harus tahu bagaimana mengombinasi kedua sifat itu. "Yang satu tanpa yang lain," kata dia," tak akan menjamin kekuasaan yang lama."

Karena itu, Machiavelli meyakini bahwa sikap pura-pura diperlukan dalam paduan setengah manusia dan setengah hewan itu. Seorang penguasa-politisi, kata Machiavelli, karena itu sebenarnya tak perlu memiliki sifat baik. Mereka hanya perlu terlihat-- sekali lagi, terlihat, memiliki sifat baik.

Kita tak tahu, apakah para politisi Indonesia mutakhir membaca Il Principe dan memeraktikannya, atau sifat setengah hewan itu memang secara alamiah telah menjadi bawaan sejak lahir. Yang jelas, publik melihat fakta, kini mereka hanya tukang pura-pura.

Memang, sekian lama hiodup dalam kubangan politik kotor membuat kita nyaris frustrasi dan yakin bahwa politik tak bisa dijalankan dengan tangan yang bersih. Lihat saja, bahkan filsuf sekelas Sartre saja menuliskan pesimisme itu melalui naskah dramanya, La Mains Sales. Saat Hoederer, seorang tokohnya bertanya retoris,"Bisa kau bayangkan mengatur kekuasaan tanpa dosa?"

Tetapi tak semua manusia menyerah kepada fakta. Dengan berbekal keyakinan bahwa hanya para pendosalah yang wajar berputus asa (QS Yusuf:87), masih ada sebagian yang menolak anggapan bahwa kotornya politik adalah hukum besi. Masih banyak yang meyakini, urusan kekuasaan dan amanah itu melibatkan Yang Maha Kuasa. Dari Dia pula, semua kekuasaan, posisi dan segala yang sejatinya amanah itu datang. Sebagai ujian, sebagai ayakan untuk mengukur cinta kita kepadaNya dan kepada sesama.

Jadi sejatinya, urusan kekuasaan sebenarnya urusan profetik, yang tersambung langsung kepada Tuhan YME. Nabi SAW bersabda," Akan memimpin kamu, sesudah aku, para penguasa. Akan memimpin kamu orang baik dengan kebaikannya dan orang berdosa dengan dosa-dosanya. ...kalau mereka baik, kebaikannya untuk kamu dan untuk mereka. Kalau mereka buruk (jahat), kebaikannya untuk kamu dan keburukannya untuk mereka." (Thabari, IV:147-150).

Karena itu, barangkali pemimpin yang kita perlukan adalah pemimpin yang juga profetik. Yang menyerahkan hidupnya demi kekuasaan Dia Yang Maha, yang memegang erat kebenaran menurutNya.

Kita perlu pemimpin yang selalu mengikatkan dirinya dengan Tali Allah (hablillah); yang percaya bahwa segala langkahnya hanya untuk kemuliaan Allah dan sesamanya. Kita perlu pemimpin yang masih seorang manusia. Seorang yang tak akan gamang dan jeri kepada celaan dan tekanan manusia karena sadar bahwa hidupnya dari dan akan menuju kepadaNya. [dsy]

Komentar

Embed Widget
x