Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 13 November 2018 | 08:41 WIB

Seri Penjahat Legendaris Indonesia

Kusni Kasdut; Pejuang Sakit Hati Lalu Penjahat

Rabu, 22 Oktober 2014 | 16:00 WIB

Berita Terkait

Kusni Kasdut; Pejuang Sakit Hati Lalu Penjahat
Kusni Kasdut - (Foto : istimewa)

Dunia yang kita diami tidak hanya berwarna hitam dan putih. Apalagi warna kehidupan manusianya.

INILAHCOM, JakartaAwalnya ia bernama Waluyo. Lahir sebagai pemuda miskin, anak seorang petani miskin di Blitar, Jawa Timur. Di masa revolusi kemerdekaan ia tergabung tak resmi sebagai laskar rakyat yang bahu membahu bersama TNI.

Revolusi memang meruntuhkan sistem nilai lama, membongkar dan menyusun sistem nilai baru. Revolusi pula yang membuat Kusni Kasdutnamanya kemudian, ditugaskan melakukan hal-hal yang waktu itu dianggap perbuatan kepahlawanan. Hal yang selepas revolusi kemudian tak lebih sebagai tindak pidana.

Berakhirnya revolusi justru membuat Kusni Kasdut bingung. Kekacauan membuatnya bisa beristrikan seorang gadis indo dari keluarga menengah, yang kemudian berganti nama menjadi Sri Sumarah Rahayu Edhiningsih. Seorang istri yang ia cintai, ia banggakan, dan karena itu melahirkan tekad untuk menyenangkannya dengan kehidupan yang layak. Sementara sejak lahir, Kusni senantiasa bergelut dengan kemiskinan.

Kusni terus mencari pekerjaan. Namun, entah karena ia berharap terlalu tinggi, atau apa, yang ia terima tak lain serangkaian kegagalan. Berbekal pengalaman semasa revolusi 45, ia pun mencoba mendaftar masuk TNI. Sayang, ia kembali ditolak. Tak hanya karena sebelumnya pun Kusni tak resmi terdaftar dalam kesatuan, ia pun cacat secara fisik. Kaki kirinya sedikit timpang terserempet tembakan yang ia peroleh semasa perang.

Lalu tumpukan kegagalan itu menggumpal menjadi kekecewaan dan sakit hati. Turun ke dada, mengeras bagai batu. Kusni merasa bagai pepatah, habis manis sepah dibuang. Ia pun mengeraskan jiwa untuk menghalalkan segala cara. Ia membenarkan diri, menjadikan yang haram menjadi halal bagi dirinya sendiri. Semua karena tak hendak membuat anak dan istri terlantar. Bersama teman senasip-seperjuangan-sesakit hati, Kusni beralih menjadi perampok.

Ia kemudian berteman dengan Bir Ali. Ali seorang laki-laki asal Cikini kecil (sekarang wilayah sekitar Hotel Sofyan), mantan suami penyanyi Ellya Khadam. Nama lengkapnya Muhammad Ali, dijuluki Bir Ali karena kesukaannya menenggak bir sebelum melakukan aksi. (Ia menjalani hukuman mati pada 16 Februari 1980 karena membunuh Ali Badjened, seorang Arab kaya raya, saat merampok rumahnya.)

Saat Kusni masuk, geng itu sudah beranggotakan Ali, Usman, Mulyadi dan Abu Bakar. Ketiganya memberikan posisi pemimpin karena melihat bakat memimpin yang Kusni Kasdut miliki. Pelan tapi pasti, satu persatu kejahatan akhirnya dirasakan Kusni sebagai buah manis yang membuatnya ketagihan. Bahkan jeweran dari seorang yang dihormatinya, Subagio, seniornya semasa revolusi, tak mempan.

Parahnya, pengalaman tertangkap Belanda semasa revolusi membuat Kusni memandang penjara sebagai lembaga tempat penyiksaan. Karena itu, untuk menghindari penangkapan yang berujung penjara, ia rela membunuh korbannya bila dirasa terpaksa. Kusni, kemudian seolah mosnter haus darah.

Berbekal sepucuk pistol, tahun 1960-an, Kusdi bersama Bir Ali merampok dan membunuh seorang Arab kaya raya bernama Ali Badjened. Ali Badjened dirampok sore hari ketika baru saja keluar dari kediamannya di kawasan Awab Alhajiri, Kebon Sirih. Dia meninggal saat itu juga akibat peluru yang ditembakkan Ali dari atas jeep. Perampokan itu pada masa itu sangat menggegerkan.

Berselang satu tahun, pada 31 Mei 1961, Jakarta kembali gempar. Tak lain karena Museum Nasional Jakarta (Gedung Gajah) dirampok gerombolan Kusni Kasdut. Ibarat film, Kusni yang menggunakan jeep dan mengenakan seragam polisi, menyandera pengunjung dan menembak mati seorang petugas museum. Dalam aksi nekat itu ia membawa lari 11 butir permata koleksi museum. Segera Kusni Kasdut jadi buronan terkenal.

Sekian tahun buron, Kusni Kasdut tertangkap ketika mencoba menggadaikan permata hasil rampokannya di Semarang. Petugas pegadaian curiga karena ukurannya yang tidak lazim. Akhirnya ia ditangkap, dijebloskan ke penjara dan divionis mati atas rangkaian kejahatannya.

Pada masanya, Kusni adalah penjahat spesialis barang antik. Kisahnya sebagai sosok penjahat berdarah dingin ternyata tidak hanya dikenang oleh para korban atau keluarga korban. Ia juga sempat dijuluki Robin Hood Indonesia, karena ternyata hasil rampokannya sering di bagi-bagikan kepada kaum miskin. Bahkan sekitar tahun 1979, sebuah media memuat cerita bersambung berjudul "Kusni Kasdut". Cerita yang mengisahkan sepak terjang penjahat kakap itu sempat menjadi ide lagu God Bless, "Selamat Pagi Indonesia" di album Cermin. Lirik lagu itu ditulis Theodore KS, seorang wartawan musik.

Di hari-harin terakhir hidupnya Kusni bertobatdan menyesali kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan. Itu karena perkenalannya di penjara dengan seorang pemuka agama Katolik. Ia pun memutuskan menjadi pengikut setia, dan dibaptis dengan nama Ignatius Kusni Kasdut.

Sebelum dieksekusi mati, beberapa hal yang diminta Kusni dipenuhi. Ia menikmati sembilan jam terakhirnya di ruang kebaktian Katolik LP Kalisosok, dikelilingi anggota keluarganya: Sunarti (istri keduanya), Ninik dan Bambang (anak dari istri pertama), Edi (menantu, suami Ninik) dan dua cucunya, anak Ninik. Kusni juga menikmati jamuan makan terakhir dengan lauk capcai, mie dan ayam goreng. [dsy]

Komentar

Embed Widget
x