Rabu, 24 September 2014 | 05:23 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Jokowi, Benarkah Boneka yang Gampang Didikte?
Headline
Joko Widodo - (Foto: inilahcom)
Oleh: Iwan Purwantono
nasional - Kamis, 10 April 2014 | 05:00 WIB
Berita Terkait

INILAHCOM, Jakarta – Kita tahu serangan terhadap Joko Widodo, capres PDI Perjuangan datang bertubi-tubi. Salah satunya, label sebagai pemimpin boneka.

Dari sudut pandang manapun, makna pemimpin boneka tentunya bernada negatif. Menggambarkan pemimpin lemah yang tak punya konsep, miskin idealisme dan papa kepemimpinan. itu juga berarti pemimpin yang mudah disetir, didikte ataupun diatur-atur. Benarkah Jokowi punya tipikal seperti itu?

Dalam sebuah kesempatan, Jokowi pernah menyatakan bahwa dirinya bukanlah orang yang mudah disetir atau didikte. ‘’Apa saya model orang yang bisa diatur-atur atau didikte? Selama memimpin Solo dan DKI, tidak pernah itu,’’ ujar Jokowi, beberapa waktu lalu.

Rasanya pernyataan Jokowi itu tidaklah berlebihan. tidak juga lebay, istilah anak muda sekarang. Pada 2011, Jokowi yang menjabat wali kota Solo itu, sempat bersitegang dengan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Kala itu, dirinya menolak rencana sang gubernur tentang pembangunan mal di atas lahan pabrik es Sari Petojo, Solo.

Alasan Jokowi, banyak pedagang kaki lima yang memanfaatkan lahan pabrik es untuk berjualan. Nah, kalau pabrik es itu dirombak menjadi mal megah, bagaimana nasib para pedagang kaki lima itu?

Selain itu, pabrik es Sari Petojo memiliki nilai historis bagi warga Solo. Asal tahu saja, pabrik es ini merupakan warisan Belanda, dibangun pada abad 18. Pemkot Solo telah menetapkannya sebagai salah satu cagar budaya.

Sayangnya, Bibit bukannya menerima alasan Jokowi. Tipikal pemimpin asal militer, ia justru murka berat. Terlontarlah kalimat yang cukup kasar. Dia menyebut wali kota Solo itu bodoh.

Tahu respons Jokowi? Mendapat perlakuan itu, sang wali kota santai-santai saja. Sedikit pun tidak tampak ejekan itu memengaruhinya. Justru warga Solo yang tak terima wali kotanya dihina.

Sejak saat itulah, sikap anti Bibit muncul dan terus membesar. Alhasil, pendukung Bibit semakin tergerus. Kemudian dibuktikan dengan kekalahan Bibit dalam Pilkada Jawa Tengah, Juni 2013.

Di balik santainya Jokowi, bukan berarti dia mudah berkompromi. Alumni UGM itu terbukti kokoh dalam mempertahankan sikapnya itu. Apalagi kalau menyangkut kepentingan rakyat kecil.

Padahal, risiko yang harus dihadapi Jokowi cukup berat juga. Maklumlah, Bibit Waluyo adalah tokoh senior di militer. Alumni Akabri 1972 itu merupakan mantan Pangkostrad, Pangdam Jaya dan Pangdam IV Diponegoro. Di PDI Perjuangan, Bibit juga dikenal dekat dengan Ketua Umum, Megawati.

Namun, Jokowi tetaplah Jokowi. Perlawanan putra pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi Notomiharjo itu konsisten. Jadi, jangan harap bisa mudah memengaruhi Jokowi. Apalagi menebar ancaman dengan harapan nyalinya gembos menciut. [dsy]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
4 Komentar
harjanto
Kamis, 10 April 2014 | 11:22 WIB
Ini orang beneran atau boneka ya kok komentarnya kacau.
rakyat
Kamis, 10 April 2014 | 10:52 WIB
kami butuh pemimpin yang bisa memajukan bangsa bukan untuk saling menjelekan satu sama lain siapa saja yg jadi yang penting dia bisa membawa bangsa dan negara ini menjadi negara yang maju dan makmur dengan semua kekayaan yang telah tersedia bukan untuk dijual kepada pihak asing. Semoga pemimpin yang jadi sekarang bisa membangunkan bangsa ini dari keterpurukan
amin
Kamis, 10 April 2014 | 10:48 WIB
jokowi merupakan solusi pemimpin indonesia saat ini. seorang pemimpin yang cerdas, cermat dan membela wong cilik. seorang pemimpin yang santun harapan kita semua.. pemimpin yang baik pasti banyak sekali para sengkuni yang tidak suka dengan kiprah jokowi, lalu berusaha untuk menjelekkan jokowi..
boneka asing
Kamis, 10 April 2014 | 08:01 WIB
jokowi itu punya seribu muka, galak, tegas dan sok disiplin pada orang lokal apakah itu bawahan, pak bibit atau kompetitor politik tp sebagai boneka asing, bersikap manis, ramah, taat dan tunduk pada kepentingan konglomerat hitam dan pengusaha cina. terbukti skandal ratusan busway berkarat biaya rp.3,5M per unit padahal cuma rp.1M ga mampu bilang tidak pada konglomerat cina, berapa ratus milyar kerugian yg harus ditanggung warga jakarta krn sikap mencla mencle ini. dan sebagai gantinya si kowi penyedot darah rakyat tega menaikkan pajak bumi dan bangunan 50%, orang ini sudah susahkan rakyat jakarta, smoga jgn sempat jadi presiden ri, mending pak JK, Prabowo, Anis Mata, Aburizal bakri yg sudah jelas sikap nasionalismenya.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER