Minggu, 26 Oktober 2014 | 06:29 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Koalisi PDIP, PAN, dan PKB Bisa Goyahkan Demokrat
Headline
ist
Oleh: Herdi Sahrasad
nasional - Minggu, 6 April 2014 | 08:57 WIB
Berita Terkait

INILAHCOM, Jakarta - Kecenderungan kuat PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk berkoalisi telah membuat Setgab Koalisi pimpinan SBY (Demokrat) makin goyah dan lemah.

Konon, kepada kalangan dekat di lingkaran istana, Presiden SBY mengeluh bahwa para elite PPP, PKB, PKS dan lainnya yang sudah dia beri kehidupan dan jabatan terbukti malah meninggalkan Setgab dan ramai-ramai bersiap menyeberang ke PDIP.

Ini semua pragmatisme politik yang tampaknya disesalkan oleh SBY. ''SBY nampaknya bersiap menghadapi kemungkinan yang paling buruk yakni Setgab Koalisi ditinggalkan parpol anggotanya,'' kata pengajar tamu Sosiologi UGM Cherry Augusta MA, belum lama ini di Jakarta.

Para analis menyebut, Demokrat sulit mempertahankan Setgab Koalisi karena sumber daya ekonomi-politik SBY sudah mendekati akhir dan daya pikatnya makin merosot. Hal itu mendorong PAN dan PKB lari keluar dari kubu SBY dan mendekati PDIP untuk menjajaki koalisi baru.

“Wibawa dan kharisma Demokrat sudah lewat, dan senjakala Demokrat mungkin tak terelakkan,” kata pengamat poltik Andar Nubowo, pengajar Fisip UIN Jakarta.

Bahkan lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memprediksi hanya akan ada tiga kekuatan politik di Pilpres 2014 nanti yakni PDI Perjuangan, Golkar dan Gerindra, minus Demokrat yang melemah itu, meski sudah 10 tahun berkuasa.

“Demokrat tak punya tradisi oposisi, maka selalu ingin kuasa karena memang Demokrat tak ada budaya oposisi yang tangguh,” kata peneliti agama dan politik Moh Shofan MA dari Yayasan Paramadima

Kalau benar PDIP, PAN dan PKB berkoalisi, maka ketiga kekuatan politik itu harus memperkuat koalisi untuk menguatkan posisi capresnya nanti agar bisa menang.

Seperti halnya PDI Perjuangan meski elektabilitas Jokowi sebagai capres sangat tinggi sebesar 51%, namun hal itu tidak didukung oleh elektabilitas partainya yang hanya 20,9%.

Jika PDIP ingin menguatkan posisi capresnya maka harus berkoalisi dengan satu atau dua parpol di luar tiga kekuatan politik tersebut. Artinya, koalisi PDIP dengan PAN dan PKB sangat rasional dan menemukan relevansi substansialnya.

Direktur Riset SMRC Djayadi Hanan menilai PDIP dan PAN sudah memiliki chemistry dan tidak sulit untuk bergabung sekalipun langit politik mungkin mendung atau murung.

Implikasi politiknya, koalisi PDIP, PKB dan PAN itu secara langsung atau tidak, telah mendorong Ketum PPP Suryadharma Ali mendukung pencapresan Prabowo Subianto dan membuat komunikasi Gerindra-PPP makin mesra. Namun ada kekhawatiran di Gerindra bahwa PPP kemungkinan bisa mencabut keluar dari koalisi, seperti yang terjadi pada 2009, ketika lari dari Gerindra ke Demokrat, dan membuat Prabowo sangat kecewa.

Koalisi PDIP, PAN dan PKB jelas tidak menguntungkan Demokrat yang kurang percaya diri dan merasa kesepian karena ditinggalkan dari Setgab Koalisi. Karena politik adalah the art of possibility, seni kemungkinan, maka Demokrat mungkin akan berkoalisi dengan parpol yang tidak mendapat tempat koalisi di PDIP. Dengan segala hiruk pikuk dan tarik ulurnya.

Berbagai kalangan melihat, pertimbangan parpol PAN (Muhammadiyah) dan PKB (Nahdliyin tersebut dipilih PDIP sebagai mitra koalisi karena basis massa atau pemilih mereka tersebar di seluruh wilayah Indonesia sebagai kekuatan ummat.

Kembali pada koalisi PDIP, PAN dan PKB, jika benar terwujud bakal membiarkan Demokrat dalam kesendirian, seperti menunggu godot. [berbagai sumber]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER