Find and Follow Us

Selasa, 21 Januari 2020 | 14:05 WIB

KPK Didesak Usut Century-Dana Kampanye Versi Anas

Oleh : R Ferdian Andi R | Rabu, 26 Maret 2014 | 13:18 WIB
KPK Didesak Usut Century-Dana Kampanye Versi Anas
Terdakwa Anas Urbaningrum - (Foto : inilahcom/Agus Priatna)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta serius untuk mengungkap pengakuan Anas Urbaningrum soal Century dan kejanggalan dana kampanye Pilpres 2009.

Anggota Komisi Hukum DPR RI dari Fraksi PKS Fahri Hamzah mengakui dirinya menjadi saksi tentang dedikasi Anas saat Panitia Khusus Angket Century DPR RI pada 2009-2010 yang khusus mengamankan Presiden SBY. "Saya saksi, Anas bekerja atas mandat khusus Presiden. Saat itu kodenya Amankan Pak Lurah," kata Fahri kepada wartawan di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (26/3/2014).

Fahri mengatakan, pengetahuan Anas yang banyak tentang Kasus Century menjadi masuk akal karena saat itu ia merupakan Ketua Fraksi Partai Demokrat. "Saat itu Anas juga cerita habis ketemu atau rapat dengan Pak Boediono untuk koordinasi pengamanan. Anas itu tulang punggung,bisa dibayangkan dia itu bekas Ketua Partai, he is the man," ungkap Fahri.

Fahri menegaskan agar KPK meminta menelusuri keterangan Anas Urbaingrum. Tidak benar bila KPK mengabaikan pernyataan Anas. "Kalau KPK mengabaikan keterangan Anas dalam kasus Bank Century, itu tidak benar," tegas mantan Wakil Ketua Komisi Hukum DPR RI ini.

Menurut dia, kerja KPK selama ini selalu memanggil pihak yang disebut oleh saksi atau tersangka dalam kasus korupsi. Pola demikian, menurut Fahri menjadi modus untuk melibatkan orang lain. "KPK dijepit dengan kelakuannya sendiri. Pada orang lain KPK begitu bernas, begitu nama orang disebut langsung dipanggil KPK," beber Fahri.

Sementara terpisah anggota Komisi Hukum DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo mengatakan pernyataan mantan ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum semakin menguatkan dugaan adanya kekuatan di atas Sri Mulyani dan Boediono, ikut bermain dalam skandal bailout Bank Century. "Apa yang dikemukakan Anas mengonfirmasi temuan Pansus DPR untuk kasus Bank Century tentang kejanggalan profil nasabah penerima dana bailout Bank Century," kata Bambang.

Menurut dia, Faktor kejanggalan profil nasabah dan donatur ini mengindikasikan adanya operasi rahasia yang menunggangi keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyetujui bailout Bank Century. "Volume bailout yang disetujui KSSK hanya Rp 632 miliar. Rupanya, ada rekomendasi lain kepada LPS untuk mencairkan dan mendistribusikan dana hingga membengkak sampai angka Rp 6,7 triliun usai Pilpres Juli 2009," kata Bambang.

Seperti diketahui, Anas melalui pengacaranya Firman Wijaya mengakui pembelian Mobil Harier atas pemberian uang dari SBY. Anas juga mengatakan melihat kejanggalan penyumbang dalam Pilpres 2009 terhadap pasangan SBY-Boediono.

Anas sudah menyampaikan data hasil audit akuntan independen tentang penerimaan dan pengeluaran dana kampanye Pilpres 2009 kepada KPK. "Dari data itu bisa dilihat jumlah totalnya Rp 232 miliar," kata Anas usai menjalani pemeriksaan di KPK, Jakarta, Jumat (21/3).

Menurut Anas, ada sebagian data penyumbang perseorangan dan korporasi yang sesungguhnya tidak menyumbang tapi hanya dipakai namanya saja. Karenanya laporan itu layak untuk diselidiki.

Komentar

x