Jumat, 1 Agustus 2014 | 14:47 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Kiprah Greenpeace di Banjir Jakarta
Headline
(Foto : inilah.com)
Oleh: Darmawan sepriyossa
nasional - Kamis, 23 Januari 2014 | 14:19 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta – Dalam genggaman tangannya yang menuntun nenek itu menuruni anak tangga, Fauzi merasakan jemari tangan ibu lanjut usia itu bergetar.

Bukan kedinginan, karena rumah berlantai dua di bilangan Kebon baru, Tebet, Jakarta Selatan, itu belum diterjilat ketinggian air.

“Tetapi jelas, nenek yang saya evakuasi itu begitu ketakutan,” kata aktivis Greenpeace Rescue Station (GPRS) tersebut. Saking takutnya, si nenek bukan hanya mesti dipapah. Untuk menerjang air yang sudah menggenangi lantai dasar rumahnya, para aktivis GPRS bahkan harus menggendong si nenek di punggung, sebelum menaikkannya ke perahu karet yang menunggu di pintu rumah.

Membantu warga saat diterjang banjir tahunan bukanlah hal baru bagi Fauzi. Sejak tergabung sebagai aktivis Greenpeace, setiap kali banjir menerjang Jakarta, bisa dipastikan Fauzi terlibat dalam penanggulangannya. Mengevakuasi warga, terutama. Karena itu, cerita-cerita seperti tadi pun telah menjadi hal biasa.

“Trauma barangkali merupakan hal yang tak banyak dipikirkan warga yang peduli untuk menolong korban banjir,” kata Richi Raimba, Penanggung Jawab Tim Respons Banjir Greenpeace. Padahal menurut Richi, hal itu sangat penting untuk diatasi dibanding urusan logistik. “Karena biasanya memang kalau sisi logistik, banyak yang memikirkan,” kata dia.

Karena itulah, di dalam GPRS yang dibentuk Greenpeace selalu ada tim penyembuhan trauma akibat banjir, selain tentu saja tim evakuasi, tim distribusi logistik, tim pertolongan pertama dan sebagainya. Selain mengevakuasi warga-warga yang sudah sepuh, yang menyentuh hati Fauzi adalah saat mengevakuasi bayi dan para bocah usia dini.

“Kemarin kami mengevakuasi seorang ibu yang terjebak bersama bayi usia dua bulan,” kata dia. Fauzi bersyukur tim patroli GPRS yang rutin berkeliling lokasi banjir segera menemukan mereka.

Greenpeace memang tercatat sebagai salah satu kelompok masyarakat yang banyak berperan dalam setiap bencana banjir di Jakarta. Tahun ini, kelompok pecinta lingkungan itu membentuk Tim Respons Banjir bahkan sebelum bencana itu terjadi.

“Kita sudah punya petanya, sih. Tiap tahun juga begitu,” kata Fauzi.

Tetapi bukan berarti kesiapan itu mengeliminasi persoalan sepenuhnya. Ketika banjir menerjang, tetap saja selalu ada warga yang terkaget-kaget panik. “Ketinggian genangan banjir di Kebon Baru dan Kebon Manggis ini sempat mencapai 2 meter lebih,” kata Fauzi. Apalagi awal serangan banjir tahun ini dimulai lebih larut. Dalam catatan fauzi, tahun lalu air banjir mulai menggenangi perumahan warga Kebon Manggis dan Kebon Baru pada pukul 11 malam.

“Tahun ini mulainya lebih larut, pukul 12 malam,” kata Sulaiman, warga Kebon Baru.

Selain melakukan evakuasi dan pertolongan cepat untuk korban banjir, keunggulan GPRS juga menyediakan referensi informasi berita terkini titik-titik rawan banjir dan daerah yang tergenang banjir. Mereka juga memiliki saluran radio yang berhubungan langsung dengan pintu-pintu air penting, terutama Bendung Katulampa. Dalam situasi tertentu, update ketinggian pintu air, dan lain-lain, dilakukan per jam, bahkan bisa kurang.

Fauzi sendiri menilai, pada titik Kebon Manggis dan Kebon Baru, penanganan banjir kali ini jauh lebih baik. Mereka bahkan berkoordinasi erat dengan Tim Brimob yang juga menangani titik banjir tersebut. "Kalau tahun lalu, banjirnya malam, tim bantuan itu datang paginya. Atau tak jarang siangnya," kata dia.

Untuk evakuasi warga, selain tiga rakit dari kayu dan jerigen dan satu perahu karet Brimob, di lokasi Kebon Baru Greenpeace menyediakan satu perahu kayak yang memuata dua orang serta satu perahu karet berdaya tampung 8 orang.

"Kami juga menyiapkan dua sepeda motor trail, satu tenda posko dan sebuah mobil," kata Fauzi.

Tetapi ada yang selalu membuat Fauzi mengelus dada setiap kali banjir terjadi. Pada hari kedua atau ketiga, mulailah anak-anak para korban banjir turun ke jalan meminta-minta.

Fauzi melihat hal itu sangat tidak mendidik mental mereka yang tengah berkembang.karena itu, ia berharap seharusnya bantuan datang sesegera bencana terjadi.

"Langsung ke badan-badan pengumpul. Kami sih paling di sini, membantu menyalurkannya." [dsy]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER