Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 28 September 2016 | 00:13 WIB
Hide Ads

(Diskusi Inilah Demokrasi)

PKB dan Masa Depan Politik Nahdliyin

Oleh : - | Minggu, 8 Desember 2013 | 09:30 WIB
PKB dan Masa Depan Politik Nahdliyin
inilah.com
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Perjalanan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak bisa dilepaskan dari keberadaan ormas Nahdlatul Ulama (NU).

Sejarah pendiriannya yang difasilitasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama serta para aktivisnya yang didominasi dari kalangan NU semakin mengukuhkan partai ini ibarat dua sisi koin mata uang dengan NU.

Di awal debut perdananya, prestasi PKB langsung moncer dengan mempeorleh suara 12,66 persen. Partai berlambang bola dunia ini berada di urutan ketiga setelah PDI Perjuangan dan Partai Golkar.

Sayangnya, prestasi Pemilu 1999 tidak bisa bertahan di dua pemilu berikutnya. Pemilu 2004 PKB memperoleh 10,57 persen dan Pemilu 2009 makin terpuruk di angka 4,94 persen.

Jebloknya perolehan suara PKB salah satunya disebabkan konflik internal di partai yang mengantarkan KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden keempat RI itu. Meski, saat ini kondisi internal PKB kian menunjukkan soliditas di internalnya.

Muhaimin Iskandar alias Cak Imin sebagai Ketua Umum PKB menjadi simbol pemersatu di internal partai sepeninggal KH Abdurrahman Wahid.

Di satu sisi transformasi figuritas Gus Dur di PKB secara pasti telah menunjukkan hasilnya. Pikiran Gus Dur dalam bidang keagamaan, kebangsaan dan kenegaraan lambat laun sudah terlembaga di PKB.

Meski demikian, Pemilu 2014 mendatang bukanlah kompetisi yang mudah dihadapi oleh PKB. Partai yang mengklaim sebagai green party ini harus berhadapan dengan 11 partai politik lainnya yang memiliki sumberdaya dan sumberdana yang tidaklah kecil.

Di lain pihak, tren memudarnya politik aliran dan menguatnya figuritas juga menjadi hal yang patut dicermati oleh PKB.

Warga NU atau Nahdliyin sebagai basis elektoral partai ini menjadi harapan terbesar bagi PKB untuk modal bertarung dalam pemilu mendatang.

Di sisi lain, PKB memiliki mandat sosial yang tidak ringan terhadap aspirasi warga NU yang mayoritas berada di pedesaan.

Di tengah kompetisi antarpartai dalam menyongsong Pemilu 2014, PKB menghadirkan inovasi politik yang menarik perhatian publik.

Mengelus tiga kandidat presiden sekaligus yakni bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Ketua MK Mahfud MD dan raja dangdut Rhoma Irama harus diakui sebagai langkah politik yang cerdas. Kini, PKB menjadi bahan perbincangan publik atas manuver tersebut.

Di atas semua itu, implementasi kebijakan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat khususnya warga NU, mutlak dihadirkan oleh PKB.

Langkah ini semata-mata bertujuan untuk membuktikan jargon, PKB sama dengan NU dan NU sama dengan PKB.

Slogan 'Lahir Batin Indonesia' milik PKB, juga harus dapat ditransformasikan dalam aksi politik nyata di lapangan. [gus]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

Embed Widget

x