Sabtu, 1 November 2014 | 02:52 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Tindakan Penyadapan
Demokrat: Putuskan Hubungan Dengan AS-Australia
Headline
Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Ramadhan Pohan - (Foto : istimewa)
Oleh: Agus Rahmat
nasional - Kamis, 7 November 2013 | 19:30 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Partai Demokrat meminta pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat dan Australia. Sebab, kedua negara itu telah melakukan aktivitas penyadapan terhadap Indonesia.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Ramadhan Pohan mendesak kedua negara meminta maaf ke Indonesia. Jika tidak, lebih baik hubungan diplomasi diputus.

"Jika AS dan Australia tidak minta maaf, maka saya ingin DPR RI desak Pemerintah RI meninjau ulang hubungan dan kerjasamanya dgn keduanya, termasuk kerjasama dalam kemitraan strategisnya," tegas Ramadhan dalam keterangan resminya, Kamis (7/11/2013).

Wakil Ketua Komisi I DPR ini menegaskan bahwa Indonesia tidak butuh Amerika Serikat dan Australia. Tidak rugi bagi Indonesia untuk memutuskan hubungan dengan kedua negara tersebut.

"Masih banyak negara lain, seperti China, Rusia. Jerman dan lain-lain bisa menggantikan posisi AS-Aussie," kata Ramadhan.

Sydney Morning Herald pada tanggal 31 Oktober 2013 mengungkap keberadaan dan penggunaan fasilitas penyadapan di Kedutaan Australia di Jakarta.

Surat kabar Australia itu mengutip bocornya laporan rahasia dari intelijen Australia soal Indonesia dan Timor-Timur (sekarang Timor Leste) pada 1999. Disebutkan pula Australia membaca kabel diplomatik Indonesia sejak pertengahan tahun 1950-an.

Selain Australia, fasilitas penyadapan juga berada di Kedubes Amerika Serikat untuk Indonesia. Kabar ini juga diberitakan harian Sydney Morning Herald pada tanggal 29 Oktober 2013.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) dikabarkan mempunyai fasilitas penyadapan. Alat penyadapan ini tersebar di seluruh kedutaan besarnya baik di Asia Timur maupun di AsiaTenggara. Untuk Asia Tenggara, termasuk dimiliki Kedubes AS di Jakarta.

Informasi ini pertama kali diungkapkan mantan agen intelejen AS yang kini menjadi seorang whistleblower, Edward Snowden. Dia membeberkan ini melalui surat kabar Australia Sydney Morning Herald. Surat kabar itu terbit pada Selasa (29/10/2013). [gus]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER