Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 27 Juli 2016 | 20:30 WIB
Hide Ads

Mantan Calon Bupati Laporkan Hakim MK ke KPK

Oleh : Marlen Sitompul | Sabtu, 12 Oktober 2013 | 05:31 WIB
Mantan Calon Bupati Laporkan Hakim MK ke KPK
(foto:ilustrasi)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Pasca penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Muchtar dalam kasus suap sengketa Pilkada, satu per satu bekas calon kepala daerah yang kecewa karena merasa dirugikan saat bersengketa di MK mulai bereaksi.

Bahkan, ada yang melapor kejanggalan MK dalam pengambilan putusan atas sengketa Pemilukada itu ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Salah satu contoh, mantan calon bupati di Pilkada Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan, Atmari menyampaikan laporan ke KPK, Jumat (11/10/2013) siang.

Atmari melaporkan dugaan suap dalam penanganan sengketa Pilkada Tala 2013. Sengketa Pilkada Tanah Laut sudah diputus MK pada 30 Mei lalu. Namun, Atmari merasa ada kejanggalan dalam putusan MK yang menguatkan kemenangan pasangan Bambang Alamsyah-Sukamta itu.

Atmari menuturkan, dirinya sebagai pemohon padahal sudah menghadirkan 23 jenis barang bukti untuk membuktikan adanya kecurangan yang sifatnya terstruktur, sistematis dan masif dalam Pemilukada Tanah Laut.

Namun, upaya Atmari itu mental. "MK tidak mempertimbangkan barang bukti tentang kecurangan Pilkada Tala. Patut diduga adanya dugaan percobaan penyuapan dalam proses pembuatan putusan dimaksud," katanya usai melapor ke KPK.

Pria yang berpasangan dengan M Nur pada Pilkada Tala itu menjelaskan, anaknya pernah didatangi oleh orang yang mengaku utusan MK ketika sengketa Pemilukada Tala masih dalam proses persidangan. Tak hanya itu, orang yang mengaku utusan MK itu juga mengklaim dekat dengan Akil Mochtar.

"Dia bilang bahwa permohonan saya kalau tidak diurus tidak bakalan menang. Oknum itu juga memperlihatkan foto-foto kedekatannya dengan Akil Mochtar yang saat itu Ketua MK," beber Atmari.

Namun, pihak Atmari tak terbujuk dengan orang yang mengaku utusan MK itu. "Karena anak dan menantu saya tidak mengerti, tawaran dari oknum tersebut untuk mengurus perkara di MK tidak diladeni," jelas Atmari.

Kejanggalan lainnya ketika pada 23 Mei 2013, sekitar pukul 17.00, Atmari mendapat pesan pendek (SMS) dari seseorang yang mengaku bernama Achmad Sodiki. SMS itu dikirim dari nomor 08111259888.

Bunyi SMS yang dikirim ke Atmari adalah; 'Ass. H. Atmari saya tggu kontaknya kembali. Pak Achmad Sodiki Hakim Wakil Ketua MK. Wslm'. "Tapi saya tak menanggapinya karena tak kenal nomor itu," imbuh Atmari.

Karenanya Atmari berharap agar KPK mengusut dugaan suap pada penanganan sengketa Pemilukada Tala. Menurutnya, selama proses persidangan sedari pembacaan gugatan hingga pembuktian, pasangan Bambang-Sukamta sebagai pihak terkait tak pernah menghadiri persidangan.

Tapi saat putusan dibacakan, justru pasangan Bambang-Sukamta hadir dengan percaya diri bahwa gugatan Atmari bakal ditolak. "Ini kan sangat aneh. Pasti ada apa-apanya," pungkas Atmari. [mes]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

Embed Widget

x