Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 31 Juli 2015 | 14:19 WIB
Hide Ads

Ketua MK Ditangkap

Runtuhnya Wibawa Sang Penegak Konstitusi

Oleh : Y.Hidayat | Kamis, 3 Oktober 2013 | 19:00 WIB
Runtuhnya Wibawa Sang Penegak Konstitusi
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar - (Foto:inilah.com/Agus Priatna)

INILAH.COM, Jakarta - Rakyat Indonesia tadi malam (2/10/2013) dikejutkan dengan berita ditangkapnya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kediaman dinasnya di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan.

Selain mengejutkan, penangkapan tersebut seperti menyayat sanubari semua orang yang menginginkan tegaknya hukum di bumi nusantara ini. Kecuali koruptor yang tengah enjoy menikmati hasil jarahan uang rakyat di tengah penderitaan rakyat oleh himpitan ekonomi. Sebelum dan setelah peristiwa ini, mereka sedang berusaha mencari pengaman diri agar tidak terjerat KPK. Entah siapa lagi setelah Akil Mochtar?

MK, salah satu lembaga tinggi negara (yudikatif), sebelum ini tinggal satu-satunya yang masih dipercaya masyarakat dalam penegakan hukum. Kini MK pun tercoreng lantaran ulah mantan ketua Komisi III DPR dari Fraksi Golkar itu. Sepertinya habis sudah kepercayaan publik terhadap aparat penegakan hukum. Rasanya sangat sulit bagi kita untuk kembali mendapatkan sandaran dalam memperjuangkan keadilan di negeri ini. Sebab, MK yang menjadi benteng terakhir penegakkan hukum pun telah runtuh?

Dengan tertangkapnya Akil, MK mendapat citra buruk sama seperti Mahkamah Agung (MA), Kejaksaan Agung, Polri, yang memang bermasalah sejak lama dalam penegakan hukum. Mereka lebih dulu berurusan dengan KPK.

Di lingkungan kejaksaan, misalnya. Kita masih ingat dengan Jaksa Urip Tri Gunawan yang tertangkap basah KPK menerima suap US$660 ribu (sekitar Rp6 miliar) dalam kasus BLBI. Sedangkan di lingkungan Mahkamah Agung, yang teranyar ditangkap KPK adalah Hakim Setyabudi Tejocahyono. Perkaranya masih ditangani Pengadilan Tipikor Bandung. Setyabudi didakwa menerima Rp1,8 miliar plus US$160 ribu untuk memenangkan perkara suap bansos di Bandung, Jawa Barat.

Selan itu, lebih anyar lagi, ditangkapnya staf pendidikan dan pelatihan pada MA, Djodi Supratman. KPK menduga dia menerima suap dari Mario Carmelio Bernardo, anak buah pengacara terkenal Hotma Sitompoel, terkait penanganan perkara yang sedang ditangani MA. KPK terus menyelidiki peran di belakang keduanya.

Di lingkungan kepolisian, sebelumnya publik pernah juga dikejutkan dengan ditangkapnya mantan Kakorlantas Polri Irjen Djoko Susilo dalam kasus korupsi proyek pengadaan simulator SIM.

Itulah wajah-wajah aparat penegakan hukum kita yang ikut meruntuhkan kepercayaan publik atas penegakan hukum di negeri kita. Memang, tidak semua lembaga penegak hukum dihuni orang-orang seperti mereka. Masih banyak orang-orang di lembaga-lembaga tersebut yang memiliki kredibilitas dalam penegakan hukum. Peran mereka untuk penegakan hukum yang berkeadilan bagi masyarakat sangatlah dinantikan pasca penangkapan Hakim Konstitusi Akil Mochtar.

Menurut mantan Ketua MK Mahfud MD, saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami disorientasi hukum. Ini terlihat dari banyaknya kasus-kasus hukum yang penuh dengan muatan politis. Hukum saat ini banyak dihasilkan dengan rekayasa undang-undang dan rekayasa para hakim.

"Kita negara hukum, keadilan itu bisa ditemukan dengan kreativitas undang-undang dan hakim. Penegakan hukum sekarang masih gagal," kata Mahfud MD dalam diskusi hukum di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Senin (30/9/2013).

Penegak hukum cenderung tebang pilih dalam menegakkan hukum sehingga membuat hukum di Indonesia dinilainya semakin tidak jelas. Dengan banyaknya ketidakjelasan penegakan hukum yang marak terjadi, membuat masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan penegakan hukum. Ditambah lagi dengan banyaknya kasus hukum yang diperjualbelikan oleh penegak hukum.

"Sekarang orang sudah distrust terhadap hukum. Sekarang orang cukup cari pengacara yang pintar melobi, bukan lagi pengacara yang pintar," tegas Mahfud MD mencontohkan kelakuan salah satu penegak hukum kini.[yeh]


0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.